Kebangkitan Umat Islam Sedunia. SubhanAllah..

July 28th, 2009 by dakwahislam

Video di YouTube untuk Renungan Bersama. AllahuAkbar.

July 28th, 2009 by dakwahislam

Mereka (musuh Allah) Merancang & Allah juga merancang. Sesungguhnya Allah sebaik2 perancang


Dokumentari Keruntuhan Negara Islam

February 3rd, 2009 by dakwahislam

Dokumentari yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Australia Sempena Memperingati 87 Tahun Kejatuhan Khilafah.  Mudah-mudahan dapat memberi kesadaran kepada seluruh umat Islam….

How Khilafah was destroyed (Rajab Campaign, HT Australia)

Kehancuran Daulah Khilafah - punca kepada seluruh tragedi di dunia Islam

February 3rd, 2009 by dakwahislam

Lebih 80 tahun yang lalu, pada tanggal 28 Rajab 1342H (3 Mac 1924), sebuah kelompok berlatar belakang Yahudi-Masonis, yang dipimpin oleh Mustafa Kamal Attaturk laknatullah, telah mengisytiharkan pembubaran Daulah Khilafah (Khilafah Utsmaniyyah) dan menggantikannya dengan sebuah negara sekular Turki.

Setelah 13 abad keemasan, Daulah Khilafah, yang merupakan kesinambungan dari Daulah Islam (Negara Islam) yang di bangun oleh Rasulullah saw, di Madinah telah dihancurkan melalui tangan seorang manusia terkutuk Mustafa Kamal. Bermula dari tanggal 28 Rajab 1342H itu, maka Daulah Khilafah yang selama ini telah membawa Islam ke seluruh penjuru alam telah lenyap dari muka bumi. Bermula dari tarikh itu juga, lenyaplah sudah sebuah Daulah Islam yang selama lebih 1400 tahun telah memberikan rahmat dan kedamaian kepada dunia amnya dan umat Islam khasnya, musnahnya sebuah Daulah Islam yang selama ini menghilangkan seluruh belenggu yang memisahkan manusia, seperti nasionalisme, patriotisme dan juga rasisme.

Tidak terhenti di situ, sebagai seorang Muslim kita harus faham bahawa penghancuran Daulah Khilafah adalah merupakan hasil sebuah senario dan rencana berabad-abad lamanya dari kaum kuffar untuk melawan Islam dan kaum Muslimin. Contoh yang nyata bahawa ini adalah perancangan jahat mereka adalah tragedi Perang Salib pada abad ke-12 serta invasi tentera Tartar ke atas Baghdad dan Damaskus pada 1258. Meskipun serangan kaum kuffar ini “berhasil”, namun tak berapa lama selepas itu, kaum Muslimin, dengan izin Allah, mampu bangkit dan mengalahkan mereka semula. Bahkan kaum Muslimin berhasil membawa Islam sampai ke benteng-benteng negara kuffar hingga hampir menembusi jantung Eropah

Dari kekalahan demi kekalahan yang mereka alami, maka segeralah kaum kuffar ini mengkaji dan cuba memahami mengapa kaum Muslimin selalu mampu merebut kembali setiap tanah yang mereka taklukkan. Oleh karena itu, kaum kuffar ini mulai mengganti taktik konvensional, yang berupa invasi militer, lalu mencuba pakai strategi yang lebih berbahaya dan dahsyat. Mereka lalu melakukan invasi ideologi dan missionaris; menanamkan rasisme dan nasionalisme; mengukuhkan agen-agen mereka dari kalangan Muslim sendiri; dan mengkolonisir negeri-negeri Islam yang jauh tempatnya dari pusat Daulah. Metode baru ini terbukti sangat efektif, sehingga akhirnya mereka berjaya menghancurkan Daulah Khilafah, tepatnya pada 28 Rajab 1342H.

Arti Penghancuran Khilafah dan Kesan-kesannya

Hancurnya Daulah Khilafah memiliki konsekuensi yang amat besar, yakni tidak diterapkannya aturan-aturan Islam, dan berlakunya hukum-hukum kufur buatan manusia yang telah mengakibatkan kemurkaan dan azab Allah. Allah Swt. berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa saja yang berpaling dari Peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TMQ Thaha [20]:124).

Negara Khilafah adalah negara Islam yang selama ini membawa risalah Islam ke seluruh bangsa-bangsa di dunia dengan jalan dakwah dan jihad. Hancurnya Negara Khilafah telah mengakibatkan terhentinya penyebaran Islam dan futuhat (pembukaan negeri-negeri baru). Hancurnya negara Khilafah bererti semakin mudahnya jalan kaum kafir untuk menyebarkan ajaran dan pemikiran sesat mereka ke atas anak-anak kaum Muslimin di seluruh dunia Islam.

Daulah Khilafah adalah negara Islam, yang menyatukan seluruh kaum Muslimin di bawah satu payung pemerintahan. Hancurnya Daulah Khilafah juga telah mengakibatkan perpecahan kaum Muslimin berserta negeri-negeri mereka kepada negara-negara kecil yang tidak bersatu dan tidak berdaya. Saat ini lebih dari 50 buah negara kaum Muslimin yang tercerai berai telah berdiri dengan lemahnya! Hal tersebut mengakibatkan semakin kuatnya nasionalisme, rasisme, dan patriotisme di kalangan kaum Muslimin, serta hilangnya ikatan ukhuwwah yang di dasarkan atas satu kesatuan akidah. Allah swt. berfirman:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Karena itu, sembahlah Aku. (TMQ al-Anbiya [21]:92).

Daulah Khilafah adalah negara Islam yang menjaga tanah-tanah kaum Muslimin dan kesatuan umat Islam. Hancurnya Daulah Khilafah juga telah mengakibatkan kolonisasi kaum kafir terhadap negeri-negeri umat Islam dan berdirinya pangkalan-pangkalan militer di negeri kita semua. Palestin adalah contoh yang nyata. Daulah Khilafah-lah yang selama ini menjaga Palestin dari invasi Yahudi. Namun, saat negara Islam hancur, Palestin terus berhasil diduduki oleh Yahudi laknatullah. Rasulullah saw bersabda:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai; orang-orang berperang dengannya dan dilindungi olehnya.” (HR Muslim).

Negara Khilafah adalah negara Islam yang menjaga darah dan harta kaum Muslimin serta menjaga kekayaan negara dengan melaburkannya untuk urusan Islam dan kaum Muslimin semata-mata. Hancurnya Negara Khilafah telah mengakibatkan adanya perompakan oleh penguasa-penguasa Muslim yang zalim dan khianat, berleluasanya kemiskinan, banyaknya huru-hara dan kemaksiatan dalam negara, berleluasanya rompakan, pencurian, perzinaan, diskriminasi, eksploitasi dan melayangnya segala kekayaan umat Islam ke tangan orang-orang kafir dan kepada penguasa-penguasa pengkhianat umat. Perang saudara dan tertumpahnya darah sesama Muslim silih berganti. Jumlah korban mencecah jutaan nyawa hasil perbalahan sesama sendiri. Sifat persaudaraan sudah hilang, ketakutan kepada Allah sudah musnah, kaum Muslimin hidup hanya untuk mengejar kekayaan dan benar-benar takut untuk mati.

Wahai kaum Muslimin! Daulah Khilafah adalah Daulah Islam. Setiap individu warga negara yang pernah hidup di dalamnya merasa aman dan tenteram. Keluarga, kekayaan, harga diri, martabat, dan kehormatan mereka dijamin oleh Negara. Hancurnya Negara Khilafah telah membawa kepada segala kehancuran umat Islam seperti mana yang kita sedang saksi dan rasakan sekarang. Tidak ada lagi keamanan dan keselamatan, yang ada malah ketakutan dan kesengsaraan. Semua ini merupakan akibat aturan-aturan Islam yang melindungi seluruh individu sudah tidak diterapkan, malah diganti dengan hukum kufur penjajah dan hukum kufur rekaan tangan-tangan manusia Muslim itu sendiri.

Pasca hancurnya negara Khilafah, orang-orang kafir mengekang seluruh negara umat Islam dan mengendalikan semua urusannya, baik aspek pemerintahan, politik, media, institusi pendidikan, ekonomi, bahkan kehidupan publik dan rumah tangga sekalipun telah berjaya di serapkan ideologi Kapitalis kuffar ini.

Apa respons anda?

Bagi kaum Muslimin yang ikhlas, yang hidupnya hanya untuk Allah dan yang matinya hanya untuk Allah, mereka melihat dan memahami bahawa segala penderitaan yang dialami oleh umat Islam setelah hancurnya Khilafah, ini adalah permulaan kepada sebuah perjalanan dan perjuangan yang akan mengantarkan mereka kepada syurga Allah. Sebuah perjuangan yang mulia untuk mengembalikan semula kehidupan Islam dengan jalan menegakkan kembali Daulah Khilafah yang akan mengatur semula dunia ini dengan hukum Allah dan RasulNya. Ya inilah perjuangan yang akan dilakukan oleh pemuda-pemuda Muslim yang ikhlas, yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mereka berjuang siang dan malam bagi mengejut dan membangkitkan saudara-saudara mereka yang terleka dan terlena dengan keindahan dunia yang bersifat sementara ini. Kaum Muslimin yang ikhlas ini berjuang untuk menerapkan semula sebuah kewajipan agung yang telah membawa kemuliaan kepada umat Islam satu ketika dahulu. Mereka telah menyahut seruan Allah dan seruan RasulNya untuk mengembalikan semula keagungan Islam sebagaimana yang telah dirintis oleh Rasulullah 1400 tahun yang lampau. Dan para pemuda Muslim ini yakin dengan janji dan kemenangan dari Allah dalam perjuangan mereka. Justeru, mereka menyeru agar anda semua menyahut perintah Allah dan Rasul untuk menegakkan semula Daulah Khilafah ala minhaj nubuwwah…

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

KHILAFAH AKAN KEMBALI DENGAN IZIN ALLAH

August 30th, 2007 by dakwahislam

Laungan ALLAHU AKBAR oleh 100,000 manusia menggamatkan Stadium Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia pada Ahad lepas (28 Rejab 1428H / 12 Ogos 2007M) di mana telah berlangsung International Khilafah Conference (Persidangan Khilafah Antarabangsa) 2007 dengan tema “Saatnya Khilafah Memimpin Dunia” yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah jua. Tidak ada apa yang dapat menyekat kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila Dia menghendaki sesuatu untuk berlaku. Rejim-rejim kufur di seluruh dunia yang cuba menghalang suara kebenaran dari dikumandangkan ternyata gagal di dalam usaha mereka. Kejayaan Hizbut Tahrir Indonesia di dalam menganjurkan Muktamar Khilafah Antarabangsa Ahad lalu memberi mesej yang jelas kepada seluruh dunia bahawa kebangkitan umat Islam sudah tidak dapat dibendung lagi dan Khilafah akan kembali semula dengan izin Allah di dalam waktu yang terdekat, InsyaAllah.

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan muktamar tersebut dari awal hingga akhir dan menjadikannya muktamar terbesar di dunia semenjak jatuhnya Khilafah pada 28 Rejab 1342H. Dalam perkembangan yang berkaitan, Muktamar Khilafah oleh Hizbut Tahrir Malaysia yang sepatutnya diadakan di Masjid Negeri, Shah Alam, Selangor telah di pindahkan pada waktu-waktu terakhir ke Pusat Perkembangan Dan Kefahaman Islam (CITU), Universiti Institut Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam. Dengan izin Allah, muktamar telah berjalan dengan baik, meskipun berlaku sedikit masalah melibatkan pihak berkuasa. Suara kebenaran sesungguhnya akan pasti menyerlah walau apa jua halangan dan hambatan yang dilontarkan kepadanya.

Hizbut Tahrir Malaysia dengan ini ingin mengambil kesempatan untuk mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak Masjid Negeri Shah Alam dan juga pihak CITU khususnya yang telah memberi kerjasama penuh sehingga muktamar dapat berjalan dengan baik hingga ke penghujungnya. Kepada Allah kami memohon agar segala kerjasama dan kebaikan yang diberikan diganjari olehNya. Kami juga sekali lagi ingin mengambil kesempatan untuk memohon maaf kepada lebih kurang 500 orang hadirin yang datang dari seluruh negara yang terpaksa membanjiri Dewan Muktamar yang hanya dapat menampung 200 orang peserta. Selain Indonesia dan Malaysia, pada hari yang sama, Muktamar Khilafah turut diadakan oleh Hizbut Tahrir Lebanon dan Hizbut Tahrir Belanda. Sehari sebelumnya, ia diadakan oleh Hizbut Tahrir Palestin (di Tebing Barat) yang dihadiri oleh lebih 10,000 orang. Terdahulu, Hizbut Tahrir Britain telahpun mengadakan Khilafah Conference yang sama pada 4 Ogos 2007 yang menyaksikan kehadiran peserta lebih kurang 3,000 orang dan pada awal tahun ini iaitu pada 28 Januari 2007, Hizbut Tahrir Australia telah berjaya menyelenggarakan Persidangan Khilafah yang julung-julung kali diadakan di Sydney, Australia. InsyaAllah di dalam masa lebih kurang seminggu lagi, Khilafah Conference akan diadakan oleh Hizbut Tahrir di Yemen, Pakistan dan juga Denmark. Semoga Allah bersama dengan mereka yang bersungguh-sungguh dan ikhlas menyampaikan kebenaran.

Di antara mereka yang berucap di International Khilafah Conference 2007 Jakarta ialah Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (jurucakap rasmi HTI), Ustaz Hafidz Abdurrahman (Ketua, Dewan Pimpinan Pusat HTI), Dr. Salim Fredericks (HT Denmark) dan Syeikh Usman Ibrahim (HT Sudan). Selain dari anggota Hizbut Tahrir, mereka yang turut berucap adalah Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin, Ketua Umum Syarikat Islam, Amrullah Ahmad, Ketua Majlis Ulama Islam (MUI) Sumatera Selatan, Tholan Abdul Rauf, dan tokoh Nahdiyin (NU) dari Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Turmudzi Badhuli. Dua orang pembicara lainnya yang sepatutnya berucap iaitu Ustadz Abu Bakar Basyir dan Habieb Rizieq Shihab telah dihalang lebih awal oleh Pihak Berkuasa Indonesia dari menghadiri persidangan tersebut. Selain ulama dari Indonesia, Profesor Hassan Ko Nakata dari Jepun turut menjadi pembicara undangan.

Dr. Imran Waheed dari Hizbut Tahrir Britain, yang sepatutnya menjadi salah seorang pembicara, telah dihalang dari memasuki Indonesia sebaik sahaja memijakkan kaki di Lapangan Terbang Antarabangsa Soekarno-Hatta, Jakarta. Tiada sebarang sebab diberikan samada oleh Pihak Imigresen mahupun kerajaan Indonesia tentang halangan tersebut. Beliau seterusnya diiringi sehingga menaiki semula kapal terbang untuk membawa beliau keluar dari Indonesia

Turut menerima nasib yang sama adalah Ismail Wah Wah dari Hizbut Tahrir Australia apabila beliau turut dihalang memasuki Indonesia di lapangan terbang yang sama. Lebih mendukacitakan, Syeikh Issam Amirah dari Hizbut Tahrir Palestin dihalang semasa beliau masih di Palestin dan tidak dibenar meninggalkan Palestin, tanpa apa-apa sebab diberikan. Persidangan Antarabangsa Khilafah di Jakarta ini telah mendapat liputan media di seluruh dunia. Di Malaysia, liputan turut dimuatkan oleh pihak TV3 dalam Bulletin Utama pada malam itu juga. Antara agensi berita asing yang membuat liputan segera adalah Reuters, Euronews, Al-Jazeera, BBC World, Independent, Fox News dan banyak lagi.

Para pembaca yang dihormati bolehlah menonton berita-berita yang disiarkan dengan melayari www.khilafah.com atau laman web Hizbut Tahrir Indonesia (atau HT Britain) bagi mendapat gambaran sebenar dan menyeluruh. Beberapa perkembangan juga telah dimuat naik (uploaded) di www.youtube.com. Sesungguhnya International Khilafah Conference 2007 di Jakarta telah berjaya menghimpunkan umat Islam di seluruh Indonesia khasnya dan seluruh dunia amnya di dalam membawa satu mesej dan aspirasi bahawa kaum Muslimin memerlukan Khilafah yang akan menyatukan mereka dan mengembalikan semula kemuliaan dan kegemilangan mereka dan seterusnya mengalahkan musuh-musuh mereka. Gelombang perubahan dan angin rahmat kini bertiup kencang untuk menghilangkan segala rintangan dan debu-debu kotor yang menyelimuti umat Islam. Ketakutan dan kegerunan Barat kepada kemunculan semula Khilafah semakin jelas kelihatan. Suara kebenaran dilaungkan oleh seluruh umat Islam dan bergema dari seluruh pelusuk dunia tanpa mengira sempadan, bangsa, bahasa dan keturunan.

Panji-panji dan bendera Rasulullah berkibar megah tanda bersatunya kaum Muslimin di bawah satu kalimah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Pertolongan Allah terasa semakin dekat dan kemenangan semakin hampir. Inilah janji Allah kepada mereka yang beriman dan beramal soleh bahawa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Bersempena dengan Khilafah Conference yang diadakan hampir serentak di seluruh dunia, Amir Hizbut Tahrir sedunia (Hizbut Tahrir Pusat), Syeikh Atha’ Abu Rusytah telah membuat satu perutusan yang telah dibacakan di permulaan muktamar-muktamar tersebut (watikah asal adalah di dalam Bahasa Arab) dan kami paparkan di sini perutusan tersebut agar dapat dijadikan peringatan kepada semua kaum Muslimin dan kami memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati mereka yang masih tertutup, semoga cahaya kebenaran memasuki dan menyinari hati-hati mereka…

KALIMAH IFTITAH

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wassalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa sahbihi wa min walah…

Saudara-saudaraku yang mulia! Assalamu‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meletakkan keutamaan kepada bani Adam berbanding penciptaanNya yang lain.

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami telah benarkan mereka menggunakan berbagai kenderaan di darat dan di lautan dan Kami telah memberi rezeki kepada mereka dari yang baik-baik serta Kami telah lebihkan mereka dengan selebih-lebihnya atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” [TMQ al-Isra’ (17):70]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan manusia lebih tinggi kerana akal dan pemikiran mereka, agar manusia dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa hebat yang berlaku di sepanjang zaman, tidak kira samada peristiwa tersebut adalah peristiwa yang baik mahupun yang buruk. Kesemua ini berlaku agar manusia dapat belajar dari perisiwa-peristiwa ini, agar manusia dapat belajar dari yang baik dan membuang yang buruk, tanpa membiarkan sahaja peristiwa-peristiwa tersebut berlalu seolah-olah ia tidak pernah berlaku. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih tempat dan masa bagi sesuatu peristiwa untuk berlaku dan Allah juga memilih beberapa peristiwa yang lebih utama untuk diperhatikan pada waktu dan tempat tertentu lebih dari yang lainnya. Sebagai contoh, kezaliman merupakan sesuatu yang haram dan ia merupakan suatu dosa tidak kira di mana juga ia berlaku. Walaubagaimanapun, sekiranya kezaliman berlaku di Baitul Haram, ia merupakan satu keharaman yang besar dan dosanya juga adalah lebih besar.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjid al-Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ mahupun di padang pasir, dan sesiapa yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, nescaya Kami azab mereka itu dengan azab yang pedih” [TMQ al-Hajj (22):25].

Kezaliman juga adalah haram dan satu perbuatan yang berdosa tidak kira dilakukan pada bila-bila masa sekalipun. Walaubagaimanapun, kezaliman membawa keharaman dan dosa yang lebih besar sekiranya ia dilakukan pada bulan-bulan haram.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi diri kamu dalam bulan yang empat itu…” [TMQ at-Taubah (9):36].

Apa saja peristiwa yang berlaku, baik atau buruk, di dalam bulan-bulan haram, adalah lebih wajar diperhatikan berbanding peristiwa yang sama berlaku di bulan-bulan lainnya. Hari ini, kita berkumpul di dalam bulan haram, iaitu bulan Rejab dan Allah menjadikan bulan ini bulan yang mulia dan penuh kerahmatan. Kerana itu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat juga menjadikan bulan ini bulan yang mulia dan penuh keberkatan. Ingin kami mengambil kesempatan bersama kalian, pada hari yang mulia ini untuk memperingati tiga peristiwa penting yang berlaku pada bulan ini agar kita sama-sama dapat mengambil iktibar darinya; mengkajinya dan mengambil teladan darinya; semoga kita dapat mengambil yang baik darinya dan menghalang keburukan yang kita perhatikan melalui peristiwa–peristiwa tersebut dari berulang. Ini bermakna bahawa kita harus benar-benar mengambil iktibar darinya, dan berusaha agar tidak mengulangi pembacaan mengenai peristiwa-peristiwa ini, ibarat kata kita membuang masa membaca sebuah kisah, tanpa mengambil sebarang pelajaran darinya.

Peristiwa pertama adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Ia berlaku pada 27hb Rejab berdasarkan riwayat yang paling sahih. Peristiwa ini berlaku selepas Ummul Mukminin, Khadijah RadiAllahu’anha dan bapa saudara Rasulullah, Abu Thalib, meninggal dunia. Sejak pemergian mereka berdua, kaum Quraish memperhebatkan lagi gangguan dan penyiksaan ke atas Rasulullah dan para sahabat. Masyarakat Mekah mula tidak memperdulikan seruan Rasulullah. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengurniakan kepada baginda kemuliaan melalui peristiwa Isra’ di mana baginda dibawa dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa. Setelah itu, di dalam peristiwa Mi’raj, Allah telah mengangkat baginda ke langit yang tertinggi. Melalui peristiwa ini Allah telah menunjukkan kepada kekasihNya ini berbagai penciptaanNya yang agung. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini dengan jelas sekali meletakkan Islam dan RasulNya di tempat yang mulia serta memberikan ketenangan kepada baginda Sallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ia merupakan petanda bahawa kekufuran akan lenyap dan kemenangan adalah semakin hampir. Wahai saudara-saudaraku! Di sini kita perlu berfikir sejenak untuk menghayati kepentingan peristiwa ini. Ramai antara kita yang tidak sedar akan hakikat peri pentingnya peristiwa Isra’ dan Mi’raj ketika kita membacanya atau mendengar ceramah mengenainya. Apa yang harus kita sedari adalah, bersamaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, terdapat satu lagi perkara yang amat penting – iaitu peristiwa thalabun nusrah (mendapatkan sokongan bagi mencapai kemenangan untuk Islam). Allah Yang Maha Pemurah telah memuliakan Rasulullah dengan dua perkara ini (Isra’ Mi’raj dan thalabun nusrah) ketika gangguan dan penyiksaan kaum Quraish ke atas baginda semakin menjadi-jadi. Pemahaman akan hakikat ini memanifestasikan kepada kita hubungan antara peristiwa bai’ah Aqabah serta usaha-usaha ke arah kemenangan yang lainnya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj dan thalabun nusrah. Dalam kita belajar, mengambil iktibar dan beramal bersandarkan peristiwa Isra’ Mi’raj ini serta bersyukur kepada Allah akan kebaikan yang diperoleh darinya, kita juga haruslah berusaha siang dan malam untuk melakukan thalabun nusrah dari mereka yang memiliki kekuasaan dengan kebenaran dan keikhlasan. Kita juga yakin bahawa kemenangan dari Allah ini akan tiba melalui mereka yang akan membantu (al-Ansar), sama seperti kaum al-Ansar (Auz dan Khazraj) dahulu yang beriman, ketika mana mereka membantu Rasulullah memperolehi kemenangan bagi Islam. Selepas bantuan (nusrah) ini, dengan izin Allah, Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (Khilafah atas jalan kenabian) akan kembali dan pada hari tersebut, kaum Muslimin akan bergembira dengan kemenangan agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Peristiwa kedua yang perlu kita sama-sama ingati di dalam bulan haram ini adalah peristiwa pembebasan Baitul Maqdis yang berlaku pada 27hb Rejab 583H. Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, ramai antara kita yang tidak menyedari tentang thalabun nusrah ; begitulah juga, ramai tidak menyedari akan satu hal penting yang seharusnya kita ambil perhatian ketika kita membaca mengenai pembebasan Baitul Maqdis. Hal yang penting ini adalah bahawa pembebasan ini berlaku pada bulan Rejab 583H, selepas Mesir kembali disatukan ke dalam Daulah Khilafah pada 567H. Mesir pada suatu ketika telah terpisah dari Daulah Khilafah apabila golongan Fathimiyyin memisahkan diri dari Khilafah pada tahun 359H.

Apa yang dapat kita perhatikan adalah bahawa Salahuddin dan Nuruddin sebelumnya tidak dapat membebaskan Palestin sehinggalah mereka dapat menyatukan kembali Mesir ke dalam Daulah. Ketika Al-Nasir menjadi Khalifah Abbasiyyah dan Salahuddin merupakan wali di Mesir dan Sham, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin melalui pembebasan Masjid Al-Aqsa. Salahuddin telah mengirimkan berita gembira ini kepada Al-Nasir dan mendengarkan berita kemenangan yang agung ini, kaum Muslimin telah bertakbir dan bertahmid, bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Perkara ini, yakni mengenai pembebasan Baitul Maqdis ini, haruslah disedari dengan akal dan intelek yang telah Allah kurniakan kepada kita. Justeru, bagi mereka yang mencintai Al-Aqsa dan ingin melihat pembebasannya, maka seharusnyalah ia memulakan perjuangan dengan ikhlas untuk menegakkan sebuah Negara bagi seluruh kaum Muslimin (iaitu) Khilafah Rashidah ‘ala minhaj nubuwwah.

Negara ini kemudiannya akan menghancurkan Negara Yahudi dari akar umbinya dan mengembalikan Palestin kepada Daulah Islam, tanpa sebarang perundingan atau perdamaian dengan mereka. Sekiranya kaum Muslimin tidak dapat melakukannya hari ini, kita akan terus berada dalam suasana perang dengan entiti Yahudi ini sehinggalah seseorang yang mendapat bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tiba dan membebaskannya. Sesungguhnya amat agunglah kemenangan ini baginya.

Peristiwa ketiga yang harus kita ingati di bulan haram ini adalah mengenai tragedi kehancuran Khilafah apabila golongan kolonial kuffar, diketuai oleh Britain dengan bantuan para pengkhianat Arab dan Turki, telah berjaya meruntuhkan tahkta kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, dengan mendeklarasi keruntuhannya pada 28hb Rejab 1342H bersamaan 3hb Mac 1924M. Selepas peristiwa kehancuran ini, berbagai tragedi telah menimpa kaum Muslimin. Tanah mereka dikecai-kecai dan dibahagi-bahagikan kepada lebih 50 buah negara. Golongan kolonial kuffar meletakkan di setiap Negara tersebut pemerintah yang saling memusuhi antara satu sama lain. Mereka bertelagah atas perkara kebaikan dan sekiranya mereka bersetuju sekalipun, ia kerapkali diselubungi keburukan. Setiap kali mereka bertemu, ia hanya akan membawa kemudharatan kepada umat. Kali terakhir, lihatlah sahaja pertemuan di Riyadh di mana mereka bersepakat untuk menjual Palestin kepada Yahudi.

Mereka ini telah mencapai tahap kehinaan yang amat rendah, sehingga Amerika sendiri memanipulasi kehinaan ini dengan mempergunakan nyawa kaum Muslimin untuk menyelamatkan tenteranya di Iraq, sepertimana yang dilihat di Persidangan Baghdad dan Sharm al-Sheikh. Semakin tenggelamlah mereka, yakni para pemimpin ini di dalam kehinaan – begitu sombong sekali mereka menggunakan kekuasaan mereka! Semua kehinaan ini berlaku kerana mereka telah membelakangi kefardhuan yang telah Allah tetapkan ke atas mereka, yakni mengembalikan Daulah Khilafah; menyebabkan mereka ditimpa keaiban dan kehinaan dari semua pihak. Kita pada hari ini wahai saudara-saudaraku, diwajibkan untuk bekerja ke arah menegakkan semula kefardhuan ini dan kita yakin bahawa ia pasti akan berlaku, bertepatan dengan hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam yang bermaksud, “…kemudian akan kembali khilafah ‘ala minhaj nubuwwah” [HR Ahmad].

Pada ketika itu, kita akan dimuliakan seperti mana mereka yang terdahulu dari kita telah dimuliakan dengan iman dan kita akan mencapai kemenangan yang agung seperti mana mereka yang terdahulu dari kita mencapainya. Dan yang lebih utama, kita akan bertemu dengan Allah pada hari Kiamat dalam keadaan Allah redha kepada kita. Kita sebagai kaum Muslimin seharusnya bertemu dengan Allah dalam keadaan kita meletakkan bai’ah kepada seorang Khalifah yang memerintah dengan Islam, sehingga kebaikan bai’ah yang ada pada pundak kita ini akan menjadi saksi bagi kita ketika bertemu denganNya. Janganlah kita menemui Allah dalam keadaan mati jahiliyyah sekiranya kita tidak berusaha dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah dan RasulNya untuk mengembalikan kefardhuan ini.

Wahai saudaraku! Cukuplah kita meneliti tiga peristiwa tersebut di bulan haram, bulan Rajab yang mulia ini, yakni:-

(1) Isra’ dan Mi’raj dan hubungannya dengan peristiwa thalabun nusrah yang akhirnya membawa kemenangan kepada kaum Muslimin;

(2) Pembebasan Baitul Maqdis setelah penyatuan Mesir ke dalam Daulah Khilafah; dan

(3) Tragedi penghancuran Khilafah, di mana kita wajib bekerja untuk mengembalikannya semula dengan penuh keikhlasan.

Dengan menyingkapkan peristiwa-peristiwa tersebut yang penuh dengan pengajaran, ingin saya akhiri Kalimah Iftitah (kata-kata pembukaan) ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan mujtama’ (perhimpunan) ini penuh dengan kebaikan, dengan pandangan-pandangan yang bijaksana, amal yang benar, ilmu yang memberikan kesan dan dengannya Allah memberikan kebaikan, keberkatan dan kemenangan yang agung.

Insya Allah.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

MALAYSIA - NEGARA ISLAM ATAU SEKULAR?

July 31st, 2007 by dakwahislam

Isu Malaysia sebagai sebuah ‘Negara Islam’ mula diperkatakan dengan hangat apabila Dato’ Seri Dr. Mahathir (Perdana Menteri Malaysia ketika itu) mengisytiharkannya secara terbuka pada 29/09/01 semasa Majlis Perasmian Persidangan Perwakilan ke-30 Parti Gerakan Rakyat Malaysia. Bermula dari sini, ada pihak yang kerana ingin menjaga periuk nasi hanya tunduk dan ‘yes sir’ sahaja kepada apa yang diumumkan. Di samping itu, tidak kurang juga bilangan pihak yang menyanggah pernyataan tersebut, termasuklah dari golongan bukan Islam sendiri. Yang pasti, perdebatan mengenainya sehingga kini masih belum sampai ke penghujung. Baru-baru ini pula, Timbalan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak ketika menjawab pertanyaan dari wartawan mengatakan bahawa Malaysia bukan negara sekular tetapi merupakan sebuah negara Islam dengan takrifnya yang tersendiri. Menurutnya lagi, Malaysia tidak pernah berpegang kepada sekularisme tetapi didorong oleh asas Islam kerana perlembagaan jelas menyebut bahawa Islam adalah agama rasmi. Ketika diajukan soalan tentang kerajaan kelihatan sedang menuju ke arah menjadikan Malaysia sebuah negara sekular, Najib berkata: “Saya perlu betulkan anda. Kita tidak pernah menjadi sekular kerana sekular seperti yang ditakrif oleh Barat bererti meminggirkan prinsip Islam daripada cara kita mentadbir negara. Kita tidak pernah berpendirian sedemikian (kerana) kita sentiasa didorong oleh pegangan kita kepada asas Islam. Tanggapan anda adalah salah.” [UM 18/07/07]

Hasil dari kenyataan Najib tersebut, banyak pihak yang tidak berpuas hati dan menyuarakan ketidaksetujuan mereka, termasuklah dari Parti Komponen Barisan Nasional sendiri. Dalam reaksinya, Setiausaha Agung MCA, Datuk Ong Ka Chuan memetik memorandum yang diserahkan oleh Parti Perikatan kepada Suruhanjaya Reid pada 27/09/1956 yang berbunyi “Agama Malaysia adalah Islam. Kepatuhan kepada prinsip ini tidak boleh boleh meminggirkan rakyat bukan Islam yang memeluk dan mengamalkan agama masing-masing dan tidaklah bermakna bahawa Malaysia bukannya Negara Sekular”. Ong seterusnya memetik satu nota yang disediakan oleh Colonial Office bertarikh 23/03/1957 semasa London Conference Talks yang berbunyi, “Para anggota delegasi Parti Perikatan menekankan bahawa mereka tidak ada niat untuk mewujudkan (negara) teokrasi Muslim tetapi bahawasanya Malaya akan menjadi Negara Sekular”. “Ini adalah niat asal yang begitu jelas dan nyata oleh ahli-ahli UMNO, MCA dan MIC”, kata Ong. Ahli Parlimen Kota Melaka, Wong Nai Chee pula menyatakan bahawa sifat semulajadi Perlembagaan Persekutuan yang sememangnya sekular menjadi asas kepada pembentukan bangsa semenjak 1957 dan diimplementasikan semula pada 1963 (semasa penubuhan Malaysia). “Kedudukan Perlembagaan bahawa Malaysia adalah Negara Sekular juga telah disahkan oleh Mahkamah Agung pada tahun 1988 di dalam kes Pendakwaraya –vs- Che Omar”, tegas Wong lagi. [The Star 19/07/07]

Kecelaruan Takrif

Mutakhir ini kita melihat hasrat umat untuk kembali semula kepada Islam semakin meningkat. Arus kebangkitan Islam telah mengalir di mana-mana dan menyapu apa-apa sahaja yang menghalang laluannya. Rata-rata umat Islam sudah mula nampak bahawa keburukan yang membelenggu mereka selama ini adalah berpunca dari sistem sekular yang busuk. Kebangkitan ini dapat dilihat telah menjadi ancaman kepada mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Justeru, agar tidak ditolak oleh kebangkitan rakyat yang mahukan Islam, maka golongan ini terpaksa merubah ‘haluan’ mereka agar nampak lebih ‘Islami’. Tindakan ini perlu agar mereka dilihat sejalan dengan arus (Islam) yang menerpa dan dalam masa yang sama mereka boleh kekal di kerusi pemerintahan. Padahal, pada hakikatnya, mereka boleh terus kekal di kerusi pemerintahan hanya dengan membuang sistem sekular dan menggantikannya dengan hukum-hakam Islam. Sekiranya mereka melakukan perkara ini, InsyaAllah seluruh umat Islam akan mendokong pemerintahan mereka. Malangnya mereka ternyata lebih rela membenarkan dunia yang fana’ ini membelenggu mereka.

Dalam mengubah ‘haluan’ ini, pelbagai kekeliruan ditimbulkan dalam penggunaan istilah seperti ‘sekular’ dan ‘Negara Islam’. Istilah-istilah ini ditakrif mengikut kehendak sendiri tanpa bersandarkan fakta dan dalil yang sahih. Oleh itu, kita menyaksikan pada hari ini banyak konsep, definisi dan istilah-istilah Islam yang sebelum ini begitu jelas menjadi kabur, keliru, terseleweng dan yang lebih teruk, hilang dari kamus kaum Muslimin. Walaupun istilah hudud telah dikenali ramai, namun istilah-istilah seperti ta’zir, ghanimah, jizyah, khumus, siyasah, kharaj, usyur, darul harb, darul islam dan banyak lagi ternyata kabur, malah sebahagian dari umat Islam sendiri langsung tidak memahaminya. Istilah seperti khalifah, syura, wali, jihad dan sebagainya pula telah diselewengkan sehingga lari dari maknanya yang sebenar dari segi syara’. Inilah juga apa yang telah terjadi dengan istilah Darul Islam (Negara Islam) di mana ramai umara’ dan ulama sekarang memberikan maksud baru Negara Islam yang begitu asing dari Islam, sehingga ada yang membolehkannya diterjemah mengikut acuan sendiri.

Maksud ‘sekular’ juga telah dipolemikkan sehingga umat terjerat dengan pelbagai tafsirannya. Ada yang cuba memesongkan maknanya dengan mengatakan bahawa ‘kita mesti memahami istilah sekular bukan sebagaimana takrifan Barat’ yang seolah-olah menjelaskan ‘sekular’ boleh ditakrifkan dengan maksud yang baik, jika tidak mengikut Barat. Ada yang mengatakan sekular bermaksud tidak mempercayai hari kiamat dan hisab di akhirat. Manakala sebahagian umat Islam yang lain hanya nampak sekular membawa erti politik yang dipisahkan dari agama. Justeru, adalah perlu untuk kita mencerahkan kembali kekaburan penakrifan sekularisme dan Negara Islam memandangkan telah berlaku pelbagai tafsiran mengikut kepentingan yang tersasar jauh dari maksud sebenar istilah-istilah ini.


Malaysia Dan Sekularisme

Sesungguhnya Barat adalah penganut dan pengembang Ideologi (mabda’) Kapitalis yang menjadikan sekularisme sebagai akidah mereka. Kelahiran mabda ini bermula pada saat kaisar (caesars) dan raja-raja di Eropah menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menghisap darah rakyat.

Para pemuka agama (gereja) waktu itu, dijadikan perisai untuk mencapai keinginan mereka. Maka timbullah pergolakan sengit, yang kemudian membawa kepada kebangkitan ahli falsafah dan cendekiawan. Sebahagian mereka mengingkari adanya agama secara mutlak, sedangkan yang lainnya mengakui adanya agama, tetapi menyeru agar ia dipisahkan dari kehidupan dunia. Sampai akhirnya, pendapat majoriti dari kalangan ahli falsafah dan cendekiawan itu lebih cenderung memilih idea untuk memisahkan agama dari kehidupan yang kemudiannya menghasilkan usaha pemisahan antara agama dengan negara. Jika dahulu agamalah yang menjadi penentu di dalam kehidupan, sekarang, telah disepakati agar agama tidak diperhitungkan lagi dalam kehidupan ini. Maksudnya, seseorang boleh menerima mahupun menolak agama (atau Tuhan) selama mana ia (agama) tidak campurtangan dalam kehidupan.Pokoknya, agama itu harus dipisahkan dari kehidupan dan kehidupan mesti ditentukan sendiri oleh manusia.

Idea ini dianggap sebagai kompromi (jalan tengah) antara pemuka agama yang mengkehendaki segala sesuatu itu harus tunduk kepada mereka (atas nama agama) dengan para ahli falsafah dan cendekiawan yang mengingkari adanya agama. Jadi, idea sekularisme ini sama sekali tidak mengingkari atau menolak adanya agama, *****a ia tidak menjadikan agama berperanan dalam kehidupan. Ini menjadikan agama hanya sekadar ‘formaliti’ belaka, kerana sekalipun mereka mengakui kewujudannya, namun pada dasarnya mereka menganggap bahawa kehidupan dunia ini tidak ada hubungannya dengan agama. Justeru, kita menyaksikan bahawa sesiapa yang mahukan agama, maka mereka akan pergi ke gereja-gereja untuk ‘berhubung’ dengan Tuhan mereka tetapi apabila mereka (di luar gereja) melakukan aktiviti jual beli, mengambil riba, sewa-menyewa, mencuri, membunuh, berzina dan sebagainya, maka segala peraturan dalam hal ini ditentukan oleh mereka sendiri tanpa ada ketentuan atau ‘hubungan’ dengan Tuhan. Penentuan jenis hukuman, terpuji dan tercela, halal dan haram dan sebagainya berada di tangan manusia dan boleh diubah mengikut kehendak manusia. Dengan kata lain, mereka meyakini bahawa peraturan kehidupan tidak ada ‘hubungan’ dengan Tuhan, kerana agama hanyalah berperanan dalam mengatur ‘hubungan peribadi’ seseorang itu dengan Tuhannya sahaja.

Setelah mereka sepakat untuk memisahkan agama dari kehidupan, maka timbullah persoalan bagaimana untuk mengatur kehidupan manusia, apakah yang harus dilakukan dan apakah tolok ukur yang akan digunakan. Dari sini timbullah idea demokrasi yang dianut oleh ideologi ini yang berasal dari pandangannya bahwa manusialah yang berhak membuat peraturan (undang-undang). Menurut keyakinan mereka, rakyat adalah sumber kekuasaan. Rakyatlah yang berhak membuat undang-undang dan setiap orang bebas berpendapat dan berbuat sesuka hati di dalam mengatur kehidupan ini. Oleh kerana ada terlalu ramai manusia dan ini menyukarkan proses untuk membuat sesuatu peraturan atau mengambil keputusan, maka mereka menetapkan agar dilantik wakil (rakyat) dan diambil suara majoriti di dalam apa jua keputusan. Dengan ini, mereka boleh menggubal, meminda dan menghapuskan mana-mana undang-undang semahu mereka berdasarkan kaedah atau kehendak majoriti tadi. Inilah konsep sekular yang mereka terapkan di dalam negara mereka. Kemudian, apabila mereka menjajah negeri-negeri umat Islam, konsep inilah yang mereka bawa dan terapkan di dalam negeri umat Islam sehingga kita saksikan sekarang di seluruh dunia Islam termasuk Malaysia, konsep sekularisme, iaitu konsep memisahkan agama dari kehidupan ini (faslud deen’ anil hayah), telah diterapkan dengan baik dan sempurnanya.

Terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahawa Malaysia adalah negara sekular dan golongan bukan Islam benar-benar memahami akan hakikat ini. Sebab itulah mereka boleh mendatangkan fakta yang tidak dapat disangkal membuktikan yang Malaysia adalah sebuah negara sekular. Malangnya, dengan hanya pengisytiharan oleh seorang pemimpin, banyak pihak cuba menegakkan benang yang basah. Dalam ruangan yang serba sempit ini, kami paparkan sedikit bukti baik secara normatif, empirik mahupun historis yang dapat disaksikan oleh setiap orang yang mempunyai penglihatan dan pendengaran berkenaan hakikat Malaysia sebagai sebuah negara sekular:

(i) Bukti Normatif:

Perlembagaan Persekutuan yang digubal oleh sikafir Lord Reid adalah bukti yang paling jelas meletakkan Malaysia sebagai sebuah negara demokratik, sekular dan berbilang agama dengan kedudukan Islam hanyalah sebagai agama rasmi. Ini diperjelaskan lagi dari peristiwa semasa majlis sambutan harijadi Tunku Abdul Rahman yang ke-81 pada tahun 1983 di mana beliau menegaskan “Perlembagaan mestilah dihormati dan diikuti. Pernah adanya percubaan oleh segelintir orang untuk cuba memperkenalkan undang-undang agama dan undang-undang moral. Ini tidak dibenarkan. Negara ini mempunyai penduduk berbilang kaum dengan pelbagai kepercayaan. Malaysia mesti terus kekal sebagai negara sekular dengan Islam sebagai agama rasmi”.

Dari sudut ekonomi pula, sistem ekonomi yang diamalkan di Malaysia adalah sistem ekonomi Kapitalis di mana riba menjadi tunjang kepada banyak aktiviti perdagangan, khuususnya perbankan. Judi dan arak dibenarkan dengan hanya memberikan satu tauliah yang dipanggil ‘lesen’. Hak umum rakyat yang wajib disediakan secara per*****a oleh pemerintah seperti pendidikan, kesihatan, petrol, air, jalanraya dan lain-lain dikenakan bayaran sesuka hati oleh pemerintah. Ada yang berdalih dengan mengatakan Malaysia adalah negara Islam dengan adanya Bank Islam, pajak gadai Islam (ar-Rahn), universiti Islam dan sebagainya. Mereka jahil bahawa penerapan ‘nilai-nilai’ Islam di dalam sistem Kapitalis tidak sekali-kali menjadikan sistem itu Islam, sebagaimana jika kita melihat Ah Chong atau Muthusami menutup aurat seperti yang dituntut oleh Islam tidaklah menjadikan mereka Muslim.

(ii) Bukti Empirik:

Bukti empirik pula boleh dilihat dengan jelas dari peruntukan Perlembagaan dan undang-undang yang diterimapakai dan diterapkan di negara ini. Perlembagaan memperuntukkan dengan jelas bahawa ia adalah undang-undang tertinggi negara dan mana-mana undang-undang yang diluluskan bertentangan dengan Perlembagaan, maka ia secara otomatik akan terbatal. Peruntukan ini telah meletakkan Al-Quran di bawah (lebih rendah dari) Perlembagaan dan dengan sendirinya menafikan kedudukan Al-Quran dan Hadis yang sepatutnya menjadi undang-undang tertinggi (dan satu-satunya undang-undang) bagi negara. Kewujudan dua sistem mahkamah (sivil dan syariah) mengukuhkan lagi hakikat yang Malaysia adalah negara sekular (sila rujuk ‘SN117 Konflik Antara Agama’ dan ‘SN125 Sijil Mati Untuk Lina Joy’ untuk penjelasan lanjut). Dari sudut pemerintahan pula, sistem yang dilaksanakan adalah Demokrasi berparlimen – sebuah sistem (sekular) yang dicedok sepenuhnya dari penjajah British. Mengikut ajaran dan amalan sekular, segala undang-undang hendaklah dibuat oleh manusia dan hak Allah sebagai As-Syari’ (Pembuat Undang-Undang) hendaklah diketepikan. Jadi, jika majoriti manusia bersetuju untuk tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ini adalah sah menurut amalan demokrasi-sekular. Pendek kata, undang-undang boleh digubal, dipinda atau dihapuskan sesuka hati oleh manusia hanya dengan undi majoriti. Di sinilah peranan agama dinafikan secara total di dalam menentukan kehidupan.

(iii) Bukti Historis:

Hasil dari penjajahan kafir British ke atas Tanah Melayu yang sebelumnya pernah berada di bawah pemerintahan Islam, undang-undang Barat yang berasaskan sekular telah diperkenalkan. British telah memaksa umat Islam menerima undang-undang mereka. Penggantian undang-undang ini tercatat dalam sejarah penentangan hebat oleh para ulama di Tanah Melayu. Penentangan Naning (1831-1832) yang dipimpin Dol Said bermula apabila penjajah memaksa kes jenayah diselesaikan mengikut undang-undang British. Apabila Undang-undang 99 berteraskan Islam diketepikan penjajah, peristiwa ini telah memunculkan penentangan di Perak. Di Kelantan pula, penentangan berlaku apabila British melaksanakan undang-undang berkenaan cukai hasil. Ia dipimpin Tok Janggut (Haji Mat Hassan) dan Engku Besar Jeram dan dibantu oleh Haji Said, Penghulu Adam dan Ishak Merbau di Pasir Puteh. Di Terengganu, gerakan dimulakan oleh Sultan sendiri, kemudian oleh Hj Abdul Rahman Limbong, Haji Musa Abdul Ghani Minangkabau, Syed Saggot dan Tok Janggut (Lebai Deraman). Di Pahang, Dato’ Bahaman, To’ Gajah, Mat Kilau, Mat Kelubi, Panglima Muda Jempul, Mat Lela dan lain-lain telah bangkit meniupkan jihad melawan British yang telah memaksa pelaksanaan undang-undang British menggantikan undang-undang Islam di Tanah Melayu. Namun, penjajah berjaya menguasai politik Tanah Melayu dengan kelicikan dan kekuatan mereka. Sejak itu urusan pemerintahan diurus dengan undang-undang British dan merekalah yang menentukan perjalanan pentadbiran dan pemerintahan berdasarkan sistem sekular mereka yang diwarisi sehingga ke hari ini.

Definisi ‘Dar’ (Negara) Islam

Istilah Negara Islam (Darul Islam) adalah istilah syara’. Negara Islam menurut syara’ adalah suatu wilayah yang melaksanakan hukum–hakam Islam dan keamanan wilayah tersebut berada di tangan Islam, iaitu di bawah kekuasaan dan kekuatan kaum Muslimin, walaupun majoriti penduduknya bukan Islam.

Oleh itu, untuk menentukan keadaan sebuah wilayah, apakah termasuk Negara Islam atau Negara Kufur, bukanlah negeri atau penduduknya yang diambil kira, tetapi undang-undang di wilayah tersebut dan keamanannya. Apabila hukum (undang-undang) yang diterapkan oleh suatu wilayah adalah Islam dan keamanannya berada di tangan kaum Muslimin, maka wilayah seperti inilah yang disebut Darul Islam atau Negara Islam. Sedangkan apabila hukum-hakam (undang-undang) yang diterapkannya adalah undang-undang kufur dan keamanannya tidak berada di tangan kaum Muslimin, maka wilayah demikian disebut Darul Kufur atau Darul Harb. Pengertian ‘dar’ ini diambil dari sebuah hadis riwayat Sulaiman ibnu Buraidah yang di dalamnya tercantum:

“Serulah mereka kepada Islam, maka apabila mereka menyambutnya, terimalah mereka dan hentikanlah peperangan atas mereka, kemudian ajaklah mereka berpindah dari negerinya (yang merupakan darul kufur) ke darul muhajirin (darul Islam yang berpusat di Madinah) dan beritahulah kepada mereka bahawa apabila mereka telah melakukan semua itu, maka mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagaimana hak kaum muhajirin dan juga kewajiban yang sama seperti halnya kewajiban kaum muhajirin

.” [HR Muslim]

Hadis ini menyatakan dengan jelas wujudnya pembezaan antara Darul Islam dan Darul Kufur. Hadis ini menunjukkan bahawa apabila mereka tidak berpindah, maka hak mereka tidak sama dengan kaum muhajirin iaitu orang-orang yang telah berada di Darul Islam. Dengan demikian, hadis ini sesungguhnya telah menjelaskan perbezaan hukum (undang-undang) antara orang yang telah berhijrah dan yang tidak. Darul Muhajirin adalah Darul Islam pada zaman Rasulullah dan selainnya adalah Darul Kufur. Dari sinilah diambil istilah Darul Islam dan Darul Kufur atau Darul Harb. Jadi, penambahan kata Islam, kufur atau harb pada “Dar” adalah mewakili sistem hukum (undang-undang) dan pemerintahannya. Oleh kerana itu untuk menggunakan istilah ‘dar’ atau ‘negara’, ianya selalu dikaitkan dengan penguasa iaitu berkenaan: (1) pemeliharaan kepentingan umat mengikut undang-undang tertentu dan (2) kekuatan (negara) yang menjaga/membela rakyat serta melaksanakan undang-undang tersebut, iaitu faktor keamanannya. Dari sinilah dua syarat yang disebutkan di atas ditekankan. Selain itu mengenai syarat penerapan hukum-hukum, ia digali dari dalil al-Quran dan juga Sunnah. Firman Allah: “Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” [TMQ al-Mai’dah (5):44].

Dalam Hadis riwayat ‘Auf ibnu Malik mengenai kedudukan pemimpin-pemimpin zalim, tercatit sebahagian di dalamnya: “…ditanyakan oleh para sahabat: ‘Wahai Rasulullah tidakkah kita perangi saja mereka itu dengan pedang?’ Baginda menjawab: ‘Tidak selama mereka masih menegakkan solat (maksudnya menerapkan hukum-hukum Islam) di tengah-tengah masyarakat”. Terdapat juga hadis riwayat Ubadah ibnu Samit mengenai bai’at aqabah, di mana katanya: “Dan hendaknya kami tidak menentang kekuasaan penguasa kecuali (sabda Rasulullah:) ‘Apabila kalian melihat kekufuran yang bersifat terang-terangan, yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah.”. Di dalam riwayat Imam Thabrani disebut ‘kekufuran yang jelas’ (surahan). Manakala syarat keamanan mestilah keamanan Islam, yakni di bawah kekuasaan kaum Muslimin, ini diistinbat dari firman Allah:

Dan Allah (selama-lamanya) tidak memberi hak bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin” [TMQ an-Nisa’ (4):141].

Ayat ini bermaksud tidak boleh memberi ruang kepada orang-orang kafir untuk berkuasa atas orang-orang Mukmin. Ini adalah kerana dengan memberikan kekuasaan kepada mereka bererti menjadikan keamanan kaum Muslimin berada di bawah kekuasaan mereka (kufur) bukan di bawah kekuasaan Islam. Keadaan ini boleh dilihat di negara kaum Muslimin saat ini seperti Pakistan, Afghanistan, Arab Saudi, Kuwait, Libya dan banyak lagi yang mana pemimpin mereka nyata-nyata tunduk di bawah rejim kafir Amerika. Walaupun (kerana keterbatasan ruang) kami tidak dapat mengungkapkan semua nas, namun berdasarkan nas yang qat’i dari al-Quran dan Hadis, ternyata pada hari ini, tidak ada satu negarapun di dunia ini, termasuk Malaysia yang layak disebut negara Islam. Namun perlu difahami bahawa istilah negara sekular atau negara kufur bukanlah membawa maksud penduduknya juga semua sekular atau kufur. Istilah ini merujuk kepada ‘negara’ bukan ‘individu’nya. Adapun untuk individu, perlu dilihat kepada akidah dan pemikiran yang dimilikinya untuk menentukannya samada ia adalah seorang Muslim, kafir atau sekular.


Khatimah

Wahai kaum Muslimin! Kita mengetahui bahawa Negara Islam adalah Negara Khilafah dan inilah bentuk negara dan pemerintahan yang diwariskan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada para sahabat baginda serta generasi sesudah mereka hingga ke hari kiamat. Kita juga mengetahui bahawa Negara Khilafah ini telah runtuh kira-kira 83 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 Mac 1924 dan sejak itu hingga sekarang, Negara Khilafah ini masih belum muncul kembali. Sedarlah wahai saudaraku bahawa tidak ada satu negara kaum Musliminpun, termasuklah Malaysia, yang boleh diberi status Negara Islam. Seluruh tanah kaum Muslimin telah mewarisi bentuk pemerintahannya dari penjajah kuffar, bukannya diwarisi dari Rasulullah. Justeru itu, bangkitkanlah kalian untuk menunaikan kewajiban kalian mengembalikan semula, melalui tariqah Rasulullah, Negara Khilafah yang merupakan satu-satunya Negara Islam yang sebenar.

Dakwah Hizbut Tahrir

December 15th, 2006 by dakwahislam

Segala puji bagi Allah,
Tuhan sekelian alam, selawat dan salam ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad
Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, penghulu segala Nabi dan pemimpin bagi
orang-orang yang bertaqwa, juga ke atas keluarga dan sahabat-sahabat baginda.

Kaum Muslimin
yang dimuliakan! Kali ini genaplah siri ke-100 nasyrah Sautun Nahdhah (Suara
Kebangkitan) keluaran Hizbut Tahrir Malaysia. Kami bersyukur ke hadhrat
Allah Subhanahu wa Ta’ala kerana dengan limpah izinNya, kami masih dapat
meneruskan usaha dakwah ini. Kami sentiasa berdoa kepada Zat Yang Maha Kuasa
agar kami sentiasa istiqamah di dalam perjuangan menegakkan agamaNya ini dan
jika ada halangan-halangan yang melanda, maka kepadaNya jualah kami memohon
agar dihapuskan segala halangan tersebut. Tiada apa yang kami harapkan dengan
penulisan dan usaha dakwah ini kecuali untuk meraih redha dan syurgaNya.
Bersempena keluaran ke-100 SN kali ini, kami ingin memaparkan sedikit
penjelasan tentang dakwah Hizbut Tahrir agar bergembiralah golongan yang inginkan
kebaikan, lembutlah hati orang-orang yang keras memfitnah sesama Islam dan
gentarlah jantung orang-orang yang memusuhi Islam. Jika pun selepas ini
keluaran Sautun Nahdhah akan terhenti atas apa sebab sekalipun, kami akan
teruskan doa kepada Allah agar sentiasa ada di luar sana hamba-hambaNya yang
benar-benar ikhlas, yang akan meneruskan perjuangan ini, yang tidak takut
kecuali kepada Allah semata, yang akan berusaha siang dan malam untuk
memastikan hukum Allah tertegak di muka bumi ini.

Latar
Belakang Berdirinya Hizbut Tahrir

Di sini kami
hanya akan menjelaskan serba sedikit sahaja tentang Hizbut Tahrir kerana
bukanlah niat kami untuk mempromosikan HT. Para pembaca boleh membacanya dengan
lebih terperinci di dalam laman web rasmi kami (www.mykhilafah.com)
ataupun lain-lain laman web rasmi HT di seluruh dunia. Selain penerangan di
laman web, Hizbut Tahrir Pusat ada mengeluarkan sebuah buku khusus yang
bertajuk ”Hizbut Tahrir” (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia) yang
boleh didapati di mana-mana kedai buku, khususnya di Lembah Kelang. Bagi yang
masih inginkan penjelasan, bolehlah berjumpa terus dengan anggota-anggota kami
yang boleh ditemui dengan mudah di seluruh Malaysia dan juga lain-lain negara
di mana Hizbut Tahrir bergerak di dalamnya.

Hizbut Tahrir
adalah sebuah parti politik yang berideologi Islam. Politik merupakan
kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bergerak di
tengah-tengah umat, dan bersama-sama mereka berjuang untuk menjadikan Islam
sebagai permasalahan utamanya, serta membimbing mereka untuk mendirikan kembali
Daulah Khilafah dan menegakkan hukum yang diturunkan Allah di dalam realiti
kehidupan. Hizbut Tahrir didirikan di dalam rangka memenuhi seruan Allah
Subhanahu wa Ta’ala:

"(Dan)
hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada
kebaikan (Islam), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang
munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung."
[TMQ Ali Imran (3):104]. 

Hizbut Tahrir
berjuang untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat
parah, membebaskan umat dari idea-idea, undang-undang dan hukum-hukum kufur,
serta membebaskan mereka dari cengkaman dominasi dan pengaruh negara-negara
kafir. Hizbut Tahrir juga berjuang untuk membangun kembali Daulah Khilafah
Islamiyyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dapat dilaksanakan kembali.

Kembali
Kepada Islam Dengan Jalan Menegakkan Khilafah

Ada segelintir
yang masih keliru dengan perjuangan Hizbut Tahrir beranggapan bahawa tujuan (ghayah)
Hizbut Tahrir adalah untuk menegakkan Khilafah. Di sini kami ingin menjelaskan
bahawa tujuan Hizbut Tahrir adalah untuk mengembalikan semula kehidupan Islam (isti’naf
al-hayah al-Islamiyyah
), memikul dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan
memimpin serta mengawal pemikiran dan perasaan masyarakat. Kita semua maklum
bahawa hukum Islam telah ditinggalkan oleh umat Islam, samada secara individu,
bermasyarakat mahupun bernegara. Oleh itu, di dalam dakwahnya, Hizbut Tahrir
menyeru agar umat Islam (termasuk pemimpin mereka) agar kembali menerapkan
Islam di dalam kehidupan. Tujuan ini bererti mengajak kaum Muslimin kembali
hidup secara Islami di dalam semua aspek. Seluruh kegiatan kehidupan hendaklah
diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’ dan pandangan hidup yang wajib
dijadikan pegangan adalah halal dan haram.

Di samping itu, ghayah
Hizbut Tahrir juga adalah untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan
kebangkitan yang benar, melalui cara berfikir yang cemerlang. Hizbut Tahrir
berusaha untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan keemasannya
seperti dahulu, di mana umat Islam merupakan umat yang sangat maju, dengan
pemikiran yang sangat tinggi. Hizbut Tahrir juga berusaha untuk mengembalikan
umat Islam sehingga dapat mengambil alih kendali negara-negara dan
bangsa-bangsa di dunia ini, dan Negara Khilafah akan kembali menjadi negara superpower
di dunia (sebagaimana pada masa silam) serta memimpin dunia sesuai dengan
hukum-hukum Islam sehingga Islam dapat menyelimuti bumi.

Adapun thariqah
(metod) Hizbut Tahrir dalam rangka merealisasikan tujuan (ghayah) di
atas adalah dengan menegakkan Daulah Khilafah dan melantik seorang Khalifah
yang akan dibai’ah oleh umat Islam untuk memerintah dengan Kitabullah dan
Sunnah RasulNya. Hizbut Tahrir yakin bahawa hanya dengan tertegaknya Daulah
Khilafah, barulah keseluruhan hukum Islam dapat dilaksanakan sepenuhnya.
Khalifahlah nanti yang akan menyelamatkan umat ini dari segala penderitaan dan
kesengsaraan, menyatupadukan umat Islam di seluruh dunia, mengisytiharkan jihad
ke atas musuh-musuh Islam dan menghancurkan segala kezaliman. Khalifah jualah
yang seterusnya akan menzahirkan Deen Allah ini di atas segala deen
yang lain, sekaligus membawa rahmat ke seluruh alam.

Perjuangan
Hizbut Tahrir Di seluruh Dunia

Hizbut Tahrir
(HT) merupakan sebuah parti politik yang bergerak di seluruh dunia untuk
membangkitkan umat Islam melalui perubahan pemikiran. HT ada di lebih
kurang 40 buah negara di dunia, termasuk di negara kaum kafir sekalipun.
Seluruh dunia mengenali HT dan mengetahui bahawa dakwah HT adalah secara fikriyyah
(pemikiran), bukan kekerasan/fizikal
. HT mengambil thariqah
dakwah Rasulullah semasa di Makkah yang tidak pernah menggunakan kekerasan
sehingga tertegaknya Daulah Islam di Madinah.
Secara ringkasnya, perjuangan
dakwah Rasulullah semasa di Makkah ialah melalui sira’ul fikri
(pergolakan pemikiran – pemikiran kufur vs pemikiran Islam), kifahu siyasi (perjuangan
politik) dan juga thalabun nusrah (mendapatkan perlindungan). Bagi yang
mempunyai kemudahan internet, bolehlah mengakses laman web rasmi HT di pelbagai
negara dan melihat sendiri dakwah HT di seluruh dunia.
HT selalu muncul di kaca TV di Indonesia,

Britain

,

Australia

dan lain-lain negara. Wakil HT juga
sering diwawancara di BBC
[sila
ke www.youtube.com
dan taip perkaaan ” Hizbut Tahrir”]. Di Malaysia, dari masa ke semasa, TV3 dan
NTV7 turut membuat liputan tentang aksi-aksi HT yang berlaku di luar negara.
Berita Harian dan Utusan Malaysia juga telah beberapa kali menyiarkan gambar
dan berita tentang aktiviti dakwah HT di seluruh dunia.

HT bergerak
aktif di banyak bahagian di dunia ini, dari Timur Tengah, Eropah, Asia Tengah
hinggalah ke Asia Tenggara. HT berjuang di Palestin, Mesir, Iraq, Jordan,
Syria, Lebanon, Kuwait, UAE, Yemen, Oman, Maghribi, Turki, Perancis, Jerman,
Denmark, Belgium, Azerbaijan, Tajikistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Turkmenistan,
Algeria, Kenya, Sudan, China, Amerika, Rusia, India, dan banyak lagi negara. HT
merupakan antara gerakan Islam yang terbesar dan menonjol di Britain,
Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Palestin dan beberapa negara lain lagi. Di
Palestin sebagai contoh, HT mengadakan kuliah setiap minggu di Masjidil Aqsa
selepas Solat Jumaat yang dihadiri oleh ribuan umat Islam. Di Indonesia, kuliah
dan ceramah HT diadakan di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Begitu juga di
beberapa negara lain, termasuk Malaysia.

Di sebalik
perjuangan mulia HT untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia, sememangnya
HT tidak dapat lari dari tohmahan dan fitnah. Segala halangan dan fitnah yang
dilontarkan ini sebenarnya muncul dari beberapa hal:

1. Halangan
dan fitnah dari Barat
.
Fitnah dari Barat sememangnya wajar berlaku kerana mereka adalah musuh Islam.
Barat benar-benar takut dengan perjuangan menegakkan Khilafah kerana Negara
Khilafah nanti bakal menghancurkan segala ideologi kufur dan dominasi mereka ke
atas umat Islam, seterusnya menamatkan segala hegemoni mereka ke atas kaum Muslimin.
Negara Khilafah nanti juga akan mengisytiharkan jihad untuk melawan segala
kejahatan dan kekejaman yang telah mereka lakukan ke atas umat Islam. Jadi
tidak hairanlah jika Barat menggunakan segala cara yang ada untuk
menakut-nakutkan dan menghapuskan HT dan lain-lain gerakan Islam yang tidak
sehaluan dengan mereka
. Kembalinya Daulah Khilafah ke arena politik
antarabangsa merupakan mimpi ngeri dan ketakutan Barat dan InsyaAllah, hal ini
sesungguhnya akan pasti berlaku, sesuai dengan janji Allah dan RasulNya.

2. Halangan
dan fitnah dari penguasa kaum Muslimin
. Di seluruh dunia, HT sering difitnah dan dilabel
dengan pelbagai label negatif oleh pemerintah yang ada. Hal ini berlaku
biasanya bagi negara yang pemerintahnya adalah agen atau talibarut Barat. HT
juga sering mendapat tentangan dari pemerintah yang berpemikiran sekular yang
berusaha menghapuskan HT kerana ingin mengekalkan status quo mereka di
bawah sistem sekular ciptaan penjajah. Hal ini amat menyedihkan kerana mereka
(pemerintah) sepatutnya menerapkan hukum Islam, menjaga rakyatnya, menunaikan
amanah Allah ke atas mereka, menerima muhasabah dari rakyat dan menjadi
pemerintah yang bertakwa. Malangnya mereka menjadi golongan yang sekadar
mementingkan diri sendiri dan ingin kekal berkuasa. Tambah menyedihkan lagi,
pemerintah ini mempergunakan ulama yang digaji oleh mereka untuk memfitnah dan
memburuk-burukkan HT dan juga gerakan-gerakan Islam lain yang tidak sehaluan
dengan mereka. Secara sedar atau tidak, ulama murahan yang diberi sedikit
jawatan ini bersekongkol dengan pemerintah zalim ini untuk menghambur fitnah
terhadap HT. Tentang mereka ini (pemerintah dan ulama), Rasulullah Sallallahu
‘alaihi wa Sallam mengingatkan kita,

"Dua
macam golongan manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah masyarakat.
Tetapi, apabila keduanya rosak maka akan rusaklah masyarakat itu. Kedua
golongan manusia itu adalah ulama dan penguasa."
[HR Abu Na’im]

"Akan
datang penguasa-penguasa fasik dan zhalim. Barangsiapa percaya kepada
kebohongannya dan membantu kezalimannya maka dia bukan dari golonganku dan aku
bukan dari golongannya, dan dia tidak akan masuk syurga."
[HR Tirmizi]

Dalam hadis di
atas Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menerangkan bahawa penguasa itu
ada yang baik dan ada pula yang buruk. Begitu pula ulama itu ada yang baik dan
ada yang buruk (ulama su‘). Lebih tegas lagi Nabi Sallallahu ‘alaihi wa
Sallam menyatakan dan mengingatkan kita bahawa ulama su’ ini adalah
seburuk-buruk manusia,

Daripada Ali
bin Abi Thalib r.a. berkata: Telah bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa
Sallam.; "Akan tiba suatu masa di mana tidak tinggal lagi daripada Islam
ini kecuali hanya namanya, dan tidak tinggal daripada Al-Quran itu kecuali
hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka tersergam indah, tetapi ia kosong
daripada hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah
naungan langit. Dari mereka berpunca fitnah, dan kepada mereka fitnah ini akan
kembali".
[HR
al-Baihaqi]

3. Dari
gerakan-gerakan Islam yang lain.
HT turut ditohmah dan dilempar dengan pelbagai fitnah oleh gerakan-gerakan
Islam yang tidak sehaluan dengannya. Hal ini berlaku kerana mereka menganggap
bahawa kewujudan HT akan menggugat pengaruh dan kedudukan mereka. Juga, kerana
ada di kalangan mereka yang mendapat informasi yang salah tentang HT sehingga
mereka menganggap HT sebagai saingan atau musuh. Walaubagaimanapun, sebahagian
dari mereka telah pun bersama-sama dengan HT setelah menyedari kesilapan dan
kesalahfahaman mereka selama ini terhadap HT. Bagi yang masih termakan fitnah
terhadap HT, kami berdoa kepada Allah agar menghilangkan segala prasangka buruk
yang ada pada mereka. Kami juga berdoa semoga Allah melapangkan dada-dada
mereka agar memandang HT dan juga gerakan-gerakan Islam yang lain dengan
pandangan ukhwah, sebagaimana HT memandang mereka.

4. Dari umat
Islam.
Keadaan umat Islam
yang tidak memahami dakwah HT serta tidak jelas dengan perjuangan HT
menyebabkan segelintir masyarakat memandang negatif pada HT. Walaubagaimanapun,
ini hanya berlaku pada sebahagian kecil masyarakat sahaja. Bagi golongan yang
lebih ikhlas, mereka telah mendekati HT dan mendapat gambaran yang sebenar dari
sumber yang sebenar. Sebilangan besar ingin bergabung dengan HT setelah
menghadiri dan mendengar sendiri tentang HT melalui seminar, forum dan juga
dialog-dialog yang dianjurkan oleh HT. Banyak juga permohonan yang kami terima
samada secara individu, melalui e-mail atau sms dari mereka yang menyatakan
sokongan padu dan ingin berjuang bersama-sama HT. Semoga Allah memberkati
mereka dan memasukkan mereka sebagai para pejuang di jalan kebenaran.

Wahai kaum
Muslimin! HT berusaha di seluruh dunia untuk menyatukan semula umat Islam
dengan aqidah Islam. HT cuma ingin melihat umat Islam di satukan atas dasar
aqidah ini, bukannya bersatu atas dasar assabiyyah dan wathaniyyah.
HT ingin menghapuskan segala ikatan kebangsaan dan negara bangsa demi untuk
menyatukan umat Islam di seluruh dunia (sebagaimana dahulunya) di bawah payung
pemerintahan Khilafah. Oleh itu, dakwah HT di mana-mana bahagian dunia ini
adalah sama. HT berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan jalan
menegakkan Daulah Khilafah yang akan menyatukan seluruh negeri kaum Muslimin di
bawah satu pemerintahan sahaja. HT yakin bahawa hanya dengan Khilafah, barulah Deen
Allah ini akan zahir di atas segala deen yang lain dan dengannya rahmat
Allah tersebar ke seluruh alam. Tanpa Khilafah, siapakah yang akan menjadikan
Islam ini superpower? Siapakah yang akan membawa rahmat ke seluruh
penjuru alam?

Umat Islam
Wajib Bersatu Di Bawah Khilafah

Wahai kaum
Muslimin! Kami selalu menegaskan bahawa menegakkan Khilafah adalah suatu
kewajiban yang dibebankan ke atas setiap individu Muslim. Mengembalikan semula
hukum Allah ini bukannya tanggungjawsab HT semata-mata tetapi merupakan taklif
yang Allah telah tetapkan ke atas seluruh kaum Muslimin. Hukum tentang wajibnya
kaum Muslimin memiliki hanya seorang Khalifah bukanlah di-istinbathkan
oleh HT sahaja, malah ia merupakan pandangan imam-imam dan ulama muktabar.
Syeikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala
Al Madzahib Al Arba’ah
, jilid V, hal. 416: ”Seluruh imam madzhab dan
para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah
(atau Imamah)  ini…. Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan
Ahmad) –rahimahumullah– telah sepakat bahawa Imamah (Khilafah) itu wajib
adanya, dan bahawa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (Khalifah,) yang
akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas
dari yang menindasnya…."

Imam Asy
Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265 menyatakan, "Menurut
golongan Syiah, minoriti dari Mu’tazilah, dan Asya’riyah, (Khilafah) adalah
wajib menurut syara’.
Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal
juz 4 hal. 87 mengatakan: "Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh
Murji`ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah
(Khilafah).
Bahawa Khilafah adalah sebuah ketentuan hukum Islam yang
WAJIB (bukan haram, radikal atau ekstrem, apalagi bid’ah) dapat kita temukan
dalam khazanah tsaqafah Islam yang sangat kaya
seperti Imam Al
Mawardi (Al-Ahkam al-Shulthaniyah, hal. 5), Abu Ya’la Al Farraa’ (Al-Ahkam
al-Shulthaniyah
, hal.19), Ibnu Taimiyah (As-Siyasah Asy Syar’iyah,
hal. 161), Ibnu Taimiyah (Majmu’ul Fatawa, jilid 28 hal. 62), Imam Al
Ghazali (Al-Iqtishaad fil I’tiqad, hal. 97), Ibnu  Khaldun (Al-Muqaddimah,
hal. 167), Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi, juz 1 hal. 264),
Ibnu Hajar A1-Asqallany (Fathul Bari, juz 13 hal. 176), Imam An-Nawawi (Syarah
Muslim
, juz 12 hal. 205), Abdul Qadir Audah (Al-Islam Wa Audla’una As
Siyasiyah
, hal. 124) dan banyak lagi. 

Wahai kaum
Muslimin! Kami ingin mengingatkan kalian bahawa Khilafah bukan hak Hizbut
Tahrir, tetapi ia adalah hak umat Islam. Hizbut Tahrir hanya berjuang untuk
menegakkannya, sesuai dengan perintah Allah, yang mana kalian juga wajib
memperjuangkannya.
Sistem
pemerintahan Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam, bukan sistem
pemerintahan Hizbut Tahrir. Khalifah tidak semestinya datang dari anggota
Hizbut Tahrir. Kami akan berbai’ah kepada sesiapa sahaja yang dilantik secara
sah oleh umat sebagai Khalifah, tidak kira samada dia berasal dari Hizbut
Tahrir atau tidak, selama mana Khalifah tersebut memerintah berdasarkan Kitabullah
dan Sunnah RasulNya. Justeru itulah, Hizbut Tahrir senantiasa menyeru kepada
seluruh kaum Muslimin agar bersama-sama dengan Hizbut Tahrir untuk menegakkan
Khilafah. Ia adalah tannggungjawab dan hak kita semua. Kami sentiasa berdoa
kepada Allah agar seluruh kaum Muslimin sedar dan bangkit serta bersegera
kepada tugas yang mulia ini.

Inilah tugas
Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir akan menyeru dan terus menyeru kaum Muslimin dan
pemimpin mereka agar kembali kepada hukum Islam, agar kita sama-sama berusaha
untuk mendirikan Daulah Khilafah, satu-satunya entiti yang akan mengembalikan
kemuliaan dan kekuatan kita serta menyatukan kita di dunia ini. Hizbut Tahrir
akan terus berusaha dan berusaha, tanpa mengira penat dan lelah, siang atau
malam, senang atau sukar demi untuk menegakkan Deen ini. Hizbut Tahrir telah
berjanji kepada Allah dan RasulNya bahawa ia akan menjadi penjaga agama Allah
yang amanah. Kami akan berjuang dan terus berjuang sehinggalah Allah memanggil
kami pulang. Kami hidup hanya untuk Islam dan kami mati hanya untuk Islam.
Semoga Allah membuka hati kalian untuk kita bersama-sama memikul kemuliaan ini,
wahai saudaraku…..

Khatimah

Memandangkan taklif
utama adalah terhadap para pemerintah yang sepatutnya menggabungkan seluruh
negeri kaum Muslimin di bawah satu pemerintahan, kami akhiri penulisan ini
untuk bertanya kepada mereka yang berkuasa, sebelum tibanya hari di mana hanya
milik Allahlah kekuasaan itu. Demi Allah wahai para pemimpin kaum Muslimin!
Kenapakah kalian sekarang berpecah-pecah dan tidak bergabung mewujudkan Daulah
Khilafah? Apakah kalian tidak pernah terfikir sedetik pun bahawa kalian
sekarang memerintah dengan undang-undang kufur bukannya undang-undang Allah?
Apakah tidak pernah terlintas di hati kalian bahawa kalian sekarang menggunakan
kuasa yang ada untuk melakukan perkara-perkara yang dimurkai Allah? Kalian
menerapkan hukum ciptaan sendiri bukan hukum ciptaan Allah! Apakah kalian fikir
bahawa segala alasan yang kalian nyatakan untuk tidak menerapkan hukum Allah
akan diterima oleh Allah? Pernahkah Rasulullah yang sepatutnya kalian ikuti
itu, memberikan alasan kepada Allah sebagaimana alasan kalian? Atau apakah
Rasulullah berusaha bermati-matian untuk menegakkan hukum Allah tanpa sebarang
alasan? Bagaimana dengan kalian? Tidak takutkah kalian kepada murka dan azab
Allah? Tidak adakah di kalangan kalian walau seorang yang benar-benar ikhlas di
dalam menjaga agama Allah ini? Tidak adakah di kalangan kalian walau seorang
pun yang sedar akan amanah yang Allah letakkan di atas bahu kalian? Apakah
kalian tidak sedar bahawa Allah berkuasa untuk mencabut pemerintahan kalian
dengan sekelip mata? Apakah di benak kalian tidak pernah terlintas bahawa Allah
berkuasa untuk menyentap nyawa kalian dalam sesaat sahaja? Apakah kalian tidak
berfikir tentang semua itu? Takutlah kalian kepada Allah wahai mereka yang
memegang kekuasaan!! Satukanlah kami di bawah Khilafah….. amin

 

PERTUBUHAN ZAKAT ANTARABANGSA (PZA) : Apakah Ini Yang DiTuntut Oleh Islam?

December 8th, 2006 by dakwahislam

   

Baru-baru ini telah diadakan Persidangan Antarabangsa Zakat 2006 selama satu hari di Kuala Lumpur
bagi membolehkan negara-negara peserta berkongsi pengalaman dan idea
dalam urusan mentadbir, mengumpul dan mengagihkan zakat. Ia diadakan
hasil cetusan idea Perdana Menteri Malaysia
mengenai keperluan mewujudkan dana khas antarabangsa berasaskan
pengumpulan zakat sebagai kaedah utama mengagihkan bantuan pembangunan
kepada negara-negara anggota OIC yang mundur. Idea itu diikuti
persetujuan berupa penubuhan Pertubuhan Zakat Antarabangsa pada bulan Jun lalu bagi
mengagih dan menyalurkan dana zakat dari negara-negara anggota yang
lebih kaya kepada negara-negara yang memerlukan. [UM 28/11/06]

Perbincangan
tentang zakat sememangnya tidak dapat lari dari topik kemiskinan. Ini
adalah suatu yang terkait rapat kerana salah satu dari asnaf zakat itu
sendiri adalah untuk orang-orang miskin. Jadi, tidak hairanlah jika ada
cadangan diutarakan untuk mengagihkan harta zakat kepada negara-negara
miskin. Yang hairannya ialah, kenapakah dengan jumlah zakat yang
berjuta-juta ringgit dipungut setiap tahun,
 namun kemiskinan masih tetap berleluasa? Tambah
menghairankan lagi ialah, kenapakah setelah dibahagi-bahagikan harta
zakat, masih banyak lagi yang tersisa di dalam simpanan sehingga ada
cadangan untuk melaburkan harta zakat?
Sungguh aneh! Wang zakat banyak tersisa tetapi fakir
miskin tetap ada. Ke mana perginya harta zakat, sehingga masih ada yang
merempat?

Sekilas Fakta Zakat Di Zaman Khilafah

Zakat
sememangnya suatu hal yang sangat penting di dalam Islam. Ia merupakan
salah satu dari rukun Islam yang lima. Sesiapa yang membezakan di
antara kewajipan zakat dan solat, maka tergelincirlah aqidahnya.
Saidina Abu Bakar as-Siddiq telah memerangi golongan yang
enggan membayar zakat, walaupun mereka masih mengerjakan solat.
Walaupun Saidina Abu Bakar dikenali sebagai seorang yang berperwatakan
lembut, namun beliau tidak pernah berlembut kepada sesiapa sahaja yang
menyeleweng dari hukum Allah. Beliau mengisytiharkan perang ke atas
golongan yang enggan membayar zakat walaupun jumlah mereka adalah ramai
dan mereka mempunyai kekuatan. Kata-kata beliau yang sangat lantang dan tegas
terpahat di dalam sejarah umat Islam dan masih segar sehingga ke hari
ini. Inilah sifat seorang pemimpin yang benar-benar menjaga agama
Allah.
Beliau sanggup menggadai nyawa hanya semata-mata kerana ingin memastikan hukum Allah tidak dipermainkan oleh mana-mana pihak.  

Kisah Abu
Bakar ini menunjukkan dengan jelas kepada kita akan kepentingan zakat
di dalam Islam sebagai satu hukum Allah yang wajib dijaga. Hukum
berkenaan zakat diterangkan di dalam Al-Qur’an dan dirincikan lagi di
dalam hadis-hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Terdapat
pelbagai peristiwa di zaman Rasulullah yang menunjukkan dengan jelas
bagaimana Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menerap dan melaksanakan
rukun Islam yang keempat ini. Kisah-kisah yang berlaku di zaman para
sahabat juga banyak menerangkan kepada kita betapa mereka benar-benar
menjaga perlaksanaan hukum ini di dalam pemerintahan mereka. Imam-imam
empat mazhab dan juga ulama-ulama muktabar yang lainnya tidak pernah
ketinggalan membincangkan tentang zakat di dalam kitab-kitab mereka.
Semua ini membuktikan kepada kita bahawa zakat yang merupakan salah
satu dari rukun Islam ini, senantiasa diperhatikan hukum-hakam dan
perlaksanaannya oleh pemerintah dan ulama agar kesucian hukum Allah ini
tetap terpelihara. Oleh itu, kita sebagai umat Islam harus sedar bahawa
zakat merupakan salah satu dari perintah Allah yang menuntut kita
menjaganya dengan hati-hati agar kita tidak terjerumus atau
menjerumuskan diri ke dalam kesalahan dan kebinasaan di dalam
penerapannya.

Zakat
telah direalisasikan secara nyata dan berjayanya di dalam perjalanan
sejarah Islam. Kejayaan gemilang di dalam perlaksanaannya terbukti
ketika ada zaman di mana tidak ditemui orang-orang fakir atau miskin
yang berhak untuk menerima zakat. Ini dapat dilihat semasa pemerintahan
Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, sebagaimana diungkapkan oleh Yahya bin
Sa’id, seorang petugas amil zakat pada zaman Khalifah Umar bin Abdul
Aziz. Beliau berkata, "Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengutusku untuk mengumpulkan zakat orang Afrika.
Lalu
aku menariknya dan aku minta dikumpulkan orang-orang fakirnya untuk
kuberi zakat. Tapi ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan mereka
yang mengambilnya. "
[Ulwan, 1985:2, As-Siba'i, 1981:392].
Zaman pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz terkenal dan terabadi sebagai
zaman yang penuh kemakmuran sehingga tiada dari rakyatnya yang layak
untuk menerima zakat. Jadi, tidak hairanlah jika ada ulama yang
menyatakan bahawa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz adalah salah seorang
dari Khulafa’ur Raasyidin.

Namun
sayang, keadaan seperti itu kini hanya menjadi nostalgia silam. Setelah
hancurnya Daulah Khilafah Islamiyyah pada 3 Mac 1924 sebagai institusi
pelaksana zakat dan setelah pemahaman umat terhadap ajaran-ajaran Islam
(termasuk zakat) menjadi semakin lemah, maka urusan zakat telah
diselewengkan sehingga yang berhak menerima zakat tidak diberikan
haknya, manakala yang tidak layak pula diberikan zakat. Setelah tidak
adanya Daulah Khilafah yang memerintah dengan Kitabullah dan Sunnah
RasulNya, maka zakat kini difahami sebagai sesuatu yang terpisah dari
insitusi pelaksananya. Zakat telah dicabut dari kesatuannya dengan
hukum-hukum Islam yang lain di dalam bidang ekonomi.

Oleh
kerana itu, tatkala umat membicarakan persoalan berkenaan dengan zakat,
ia dianggap sebagai satu-satunya hukum Islam yang dapat digunakan untuk
mengatasi kemiskinan. Zakat dipaksa untuk ‘memikul’ semua beban dari
keseluruhan tugas sistem ekonomi Islam seolah-olah zakat itulah
satu-satunya sistem ekonomi di dalam Islam. Hukum-hukum utama yang
lainnya yang menjadi teras ekonomi Islam seolah-olah tidak pernah wujud
. Persoalan seperti al-anfaal (harta rampasan perang), jizyah (harta yang diambil oleh negara dari warga negara bukan Islam), hukum
kharaj (hukum cukai tanah), hukum syirkah
(persyarikatan dalam Islam), hukum istisna’ (hukum berkaitan industri pembuatan), hukum milkiyah al-’ammah (harta milik umum), hukum
milkiyah ad-daulah (harta milik negara), ‘usyuur (harta yang diambil oleh negara dari komoditi perniagaan ahlul zimmah/kafir harbi
yang melintasi sempadan negara) dan sebagainya langsung tidak disentuh,
bahkan lebih buruk, langsung tidak difahami atau dipelajari. Jika
dipelajari sekalipun, hanyalah untuk tujuan akademik atau bersifat
teori semata-mata, bukannya untuk diterapkan. Sebaliknya sistem ekonomi kapitalis dipelajari dengan bersungguh-sungguh untuk diterapkan. Inilah kondisi terburuk yang melanda umat Islam saat ini, hukum kufur dilaksanakan, hukum Allah dibakul sampahkan! Na’uzubillah min zhalik
.

Zakat Dan Baitul Mal

 

Baitul
Mal adalah tempat yang dikhususkan bagi kemasukan dan pengeluaran harta
yang menjadi hak seluruh kaum Muslimin. Pengelolaan Baitul Mal ini
adalah di bawah tanggungjawab Negara secara langsung di mana Negaralah
yang menjalankan kerja-kerja kemasukan dan pengeluaran semua harta yang
disimpan di Baitul Mal. Di zaman Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa
Sallam, segala harta yang dikumpul oleh Negara ditangani oleh baginda
sendiri, dan ada ketikanya oleh para wali dan amil baginda. Baginda
juga melantik pencatat untuk mencatat jenis harta. Antaranya adalah
Muaiqib bin Abi Fathimah untuk mencatat ghanîmah, Zubair bin Awwam untuk zakat, Hudzaifah bin Yaman
untuk hasil masukan dari Hijaz, Abdullah bin Rawahah untuk hasil
masukan dari Khaibar dan lain-lain lagi. Setiap kali adanya harta yang
masuk maka Rasulullah segera
membahagikannya atau membelanjakannya untuk kepentingan kaum Muslimin
sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh syara’. Hasan bin Muhammad
menuturkan,

 

"Bahawa
Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, jika datang kepada beliau harta
fa’i, ghanîmah, atau kharâj, beliau tidak menyimpannya pada siang hari
dan tidak juga pada malamnya."

  

Hal
yang sama dituturkan juga oleh Jubair bin Muhammad, sebagaimana
diriwayatkan oleh Abdur Razzaq. Keadaan yang sedemikian terus
berlanjutan sampai ke tahun pertama pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
Pada tahun kedua pemerintahan, Abu Bakar menetapkan satu tempat (bilik)
di rumahnya secara khusus untuk menyimpan harta yang masuk dari
berbagai daerah. Semua harta itu beliau belanjakan untuk kepentingan
seluruh kaum Muslimin. Apabila Abu Bakar meninggal dunia, Umar menjawat
jawatan khalifah. Beliau mengumpulkan para sahabat dan bersama-sama
masuk ke rumah Abu Bakar dan membuka bilik tempat menyimpan harta. Ternyata harta yang ada hanya berbaki satu dinar dan
itu pun kerana kelalaian pencatatnya. Semua harta habis dibelanjakan
untuk kepentingan kaum Muslimin.

 

Tatkala futûhât
(pembukaan negeri baru) semakin meluas, harta yang masuk ke dalam
simpanan Negara pun bertambah banyak, maka Umar mengkhususkan satu
rumah untuk menyimpan segala harta. Beliau membentuk jabatan untuk
mengurus dan mencatatnya. Beliau juga melantik pencatatnya, memberi
bantuan kepada rakyat, serta membentuk satu jawatankuasa untuk
menguruskan harta-harta tersebut. Peristiwa ini menurut sebahagian ahli
sejarah terjadi pada tahun ke-20 H. Sejak saat itu, Umar adalah
khalifah pertama yang memperuntukkan sebuah rumah khusus, yang disebut
Baitul Mal (rumah harta) untuk menguruskan pendapatan dan pengeluaran
harta kaum Muslimin. Umar membentuk diwan (seperti jabatan) khusus untuk mengendalikan pengurusan
harta-harta tersebut dan sejak saat ini Baitul Mal sebagai lembaga dan
tempat menyimpan harta dengan struktur diwannya menjadi sebahagian dari struktur Negara Khilafah.
Oleh kerana itu apabila kita membicarakan
tentang zakat, maka ianya tidak boleh dipisahkan dengan Baitul Mal dan
juga Khilafah kerana Baitul Mal adalah suatu institusi yang
terintegrasi di dalam negara Islam (Khilafah) yang berperanan sebagai
pusat mengumpul dan mengagihkan harta.
  

 

Zakat Dan Hubungannya Dengan Khilafah

Sebagaimana yang kita sedia maklum, zakat adalah suatu kewajiban yang hukumnya bersifat pasti (qath’i)
seperti mana yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada kaum Muslimin di dalam Al-Qur’anul Karim. Namun dalam
perlaksanaannnya zakat bukanlah kewajiban individu yang bergantung
semata-mata kepada urusan individu seseorang Muslim. Zakat adalah suatu
kewajiban yang dilaksanakan di bawah pengawasan pemerintah. Peranan
pemerintah dalam mengatur urusan zakat dapat diringkaskan kepada dua
bahagian. Pertama, pemerintah berperanan sebagai pelaksana tunggal dalam
urusan pengaturan zakat baik dalam aspek pengumpulan mahupun
pembahagian harta zakat tersebut. Kedua, pemerintah berperanan sebagai badan pelaksana (
kiyan tanfiz) hukuman (‘uqubat) terhadap mereka yang enggan membayar zakat.

Dalil-dalil
Al-Qur`an dan Al-Sunnah menunjukkan bahawa pihak yang wajib
mengurus/mengelola zakat adalah pemerintah, yakni seorang Imam
(Khalifah) atau orang-orang yang mewakilinya. Orang-orang yang berhak menerima zakat (para mustahiq zakat) telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan firmanNya, "Sesungguhnya
zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
para amil zakat, mu`allaf, hamba, orang-orang berhutang, jihad fi
sabilillah, dan ibnu sabil."
[TMQ At-Taubah (9):103]. Ayat ini membatasi dan mengkhususkan para mustahiq zakat hanya kepada lapan golongan (asnaf) sahaja. Zakat tidak boleh diberikan kepada selain mereka.

Pemerintah
selain berperanan sebagai pengelola harta zakat juga berhak menjatuhkan
hukuman kepada orang-orang yang tidak melaksanakan zakat ketika mana
hartanya sudah memenuhi syarat-syarat wajib menunaikan zakat. Tindakan
dan hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah kepada orang yang menolak
dari membayar zakat bergantung kepada keadaan masing-masing yang dapat
dihuraikan seperti berikut:

Pertama,
jika seseorang itu tidak membayar zakat kerana tidak tahu akan
kewajibannya maka ia tidak dikafirkan dan tidak dijatuhi hukuman ta’zir. Pemerintah perlu menjelaskan kewajibannya dalam membayar zakat dan mengambil zakat darinya.

Kedua,
jika seseorang itu tidak membayar zakat dengan mengingkari kewajibannya
maka ia dianggap murtad dan diperlakukan sebagai seorang murtad. Dia
akan diminta untuk bertaubat (kembali masuk Islam) dan jika tidak mahu
bertaubat, maka pemerintah mesti menjatuhkan hukuman mati ke atasnya
dan hartanya menjadi hak Baitul Mal.

Ketiga, jika
seseorang itu tidak membayar zakat tetapi masih mengimani akan
kewajibannya dalam agama maka zakat akan diambil secara paksa oleh
pemerintah dari individu tersebut. Jika mereka menentang secara
berkelompok dan tidak mahu membayar zakat maka mereka akan diperangi
oleh pemerintah dan diperlakukan sebagai bughat (pemberontak) .

Kenapa Sukar Untuk Kembali Kepada Khilafah?

 

Wahai
kaum Muslimin! Terlalu amat nyata bagi kita bahawa dunia dahulunya
berada di bawah naungan Khilafah. Segala urusan umat Islam satu dunia
diuruskan oleh seorang pemimpin sahaja yang bergelar Khalifah. Abu
Bakar, Umar, Uthman dan Ali adalah Khalifah yang memerintah dunia.
Begitu juga para Khulafa’ Umayyah, Abbasiyyah dan Uthmaniyyah. Mereka
semuanya adalah Khalifah-Khalifah Allah di muka bumi. Mereka digelar
Khalifah bukan disebabkan oleh tradisi, mereka memerintah dengan Sistem
Khilafah bukan kerana tradisi, mereka dibai’ah juga bukan kerana
tradisi, namun mereka menjadi Khalifah dan memerintah dengan Sistem
Khilafah serta mereka dibai’ah kerana ianya adalah suatu KEWAJIBAN. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam telah
menunjukkan dengan jelas bahawa baginda merupakan Nabi yang terakhir
yang mengurus umat di mana setelah baginda, urusan pemerintahan ini
akan diganti dan diuruskan oleh para Khalifah. Inilah pesan baginda
kepada kita semua yang WAJIB kita ikuti,

 

"Dahulu
Bani Israel diuruskan oleh Nabi-nabi. Setelah wafat seorang Nabi, maka
digantikan (oleh Allah) dengan Nabi yang lain. Sesungguhnya selepasku
ini tidak akan ada Nabi, (tetapi) akan ada banyak Khalifah. Sahabat
(lalu) bertanya, apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Jawab
baginda, penuhilah bai’ah yang pertama dan yang pertama (sahaja)…. ."
[HR Muslim].

 

Di
saat ini, di mana-mana sahaja negeri umat Islam, kita melihat bahawa
hukum Allah ‘ditundukkan’ oleh akal-akal manusia. Yang malangnya,
manusia itu adalah manusia yang beragama Islam, yang sepatutnya tunduk
kepada hukum Allah. Hukum Allah mewajibkan umat Islam bersatu dan haram
berpecah belah. Umat Islam wajib bersatu dengan persaudaraan Islam.
Negeri-negeri umat Islam wajib bersatu di bawah Sistem Pemerintahan
Islam. Daulah Khilafah adalah satu-satunya entiti penyatu umat Islam di
seluruh dunia. Dengannya, segala hukum-hakam Islam akan menjadi satu.
Perlaksanaan hukum juga akan turut disatukan. Hukum tentang pengagihan
zakat tidak akan menjadi satu masalah jika yang memerintah dunia adalah
seorang Khalifah. Kenapa umat Islam boleh berada bersama di bawah
bumbung PBB? Kenapa negeri-negeri Arab boleh berkumpul di bawah Liga
Arab? Kenapa negeri-negeri umat Islam boleh bersatu di bawah OIC? Kenapakah umat Islam, para pemimpin Islam, negara-negara umat Islam tidak boleh bersatu di bawah Daulah Khilafah?

 

Wahai kaum Muslimin! Kita
tidak pernah mendengar masalah pengagihan zakat timbul semasa
pemerintahan Khilafah, walhal Daulah Khilafah ketika itu menjangkau
hampir dua pertiga dunia. Apa yang kita dengar adalah Daulah Khilafah
merupakan sebuah negara yang kaya yang tidak ada kemiskinan di dalamnya
sehingga di masa-masa tertentu tidak ada orang yang layak menerima
zakat. Tidak timbul langsung soal batas sempadan negara yang menyekat
pengagihan keluar zakat. Ini adalah kerana negara umat Islam itu adalah
negara yang satu.

 

Wahai
kaum Muslimin! Allah dan RasulNya tidak pernah membataskan harta zakat
mengikut negeri atau negara. Setiap orang yang beragama Islam dan
termasuk di dalam mana-mana asnaf adalah berhak menerima zakat, tidak
kira di manapun mereka berada. Salah satu asnaf zakat itu sendiri
adalah Ibnus Sabil (anak perjalanan), yang mana ini merujuk kepada
mereka yang kehabisan bekalan di dalam perjalanan. Mereka layak
menerima zakat. Tetapi, oleh kerana penyelewengan hukum yang berlaku
pada hari ini, maka batas negeri dan batas negara menjadi penghalang
kepada pengagihan zakat. Walhal ini hanyalah batas-batas palsu dan
khayalan ciptaan penjajah. Apakah kalian masih tidak nampak wahai
saudaraku bahawa penghalang kepada penyatuan kalian adalah pemikiran
kufur yang mendominasi pemikiran kalian dan para pemimpin kalian, yang
menjadikan kalian dipisah-pisah, dikerat-kerat oleh sempadan yang
direka oleh musuh-musuh kalian. Tanyalah pada diri kalian sendiri wahai
saudaraku, apakah kalian memerlukan Pertubuhan Zakat Antarabangsa untuk
menyelesaikan masalah yang melanda kalian dan saudara-saudara kalian?
Apakah di dalam Islam ini persoalan zakat sahaja yang perlu kalian
selesaikan sehinggakan kalian memerlukan Pertubuhan ini? Apakah
pertubuhan ini merupakan perintah Allah ke atas kalian? Atau apakah
Daulah Khilafah yang menjadi perintah Allah itulah yang benar-benar
kalian perlukan?

Khatimah

Wahai
kaum Muslimin! Selagi sistem yang diterapkan di dalam negeri-negeri
umat Islam adalah sistem kapitalisme dan sosialisme yang mengenepikan
hukum Allah, maka selagi itulah kita akan menyaksikan penderitaan yang
tak berkesudahan berlaku ke atas umat Islam. Mungkin sebahagian dari kita terdiri dari golongan yang kaya atau
stabil dari segi kewangan, maka golongan ini tidak merasakan
penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara mereka yang lain.
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan kita bahawa
tidak beriman seseorang itu yang tidak kasihkan saudaranya sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri. Rasulullah
juga mengingatkan kita bahawa haram hukumnya seseorang itu tidur di
dalam kekenyangan sedangkan dia mengetahui bahawa jirannya tidur di
dalam kelaparan.
Rasulullah turut mengingatkan kita bahawa pemimpin itu adalah
pemelihara rakyatnya. Maka, bagaimana mungkin seorang Muslim yang lalai
dan seorang pemimpin yang kaya raya terlepas dari dosa bila mana mereka
hidup dikelilingi kemewahan walhal pada masa yang sama kemiskinan
berleluasa di depan mata. Adalah suatu yang lumrah di dalam sistem
sekular yang mengamalkan ekonomi kapitalis sekarang, jika kita
menyaksikan golongan pemimpin dibanjiri kemewahan, sedangkan rakyatnya
menderita kelaparan, dihimpit kemiskinan dan juga kesusahan. Manakala
zakat tak pernah kehabisan, kemiskinan masih tidak hilang! Apa kisah,
apa gerangan?

 

Wahai
kaum Muslimin! Wahai pemimpin kaum Muslimin! Tidakkah kalian pernah
bertanya pada diri kalian, sampai bilakah sistem kufur ini akan kalian
pertahankan? Tidak terdetikkah di dalam hati kalian bahawa perbuatan
ini adalah suatu dosa yang cukup besar? Tidak sedarkah kalian bahawa
segala dosa yang kalian lakukan akan terus dicatit oleh malaikat yang
tidak pernah lalai dan sentiasa ada di sebelah kalian, tidak pernah
rehat dan tidak pernah tidur? Tidak terfikirkah kalian bahawa kaki
kalian tidak akan dapat melangkah walau sedikitpun di padang
mahsyar sehingga Allah selesai memberikan perhitunganNya ke atas
kalian? Kenapakah kalian menggunakan kuasa yang ada untuk menerapkan
hukum sendiri, bukannya hukum Allah? Tidak takutkah kalian dengan
siksaan Allah yang amat pedih yang akan mengazab kalian kerana tidak
menerapkan hukumNya? Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum Muslimin,
wahai para pemimpin kaum Muslimin…

Kontrak Sosial : Kembali Kepada Sejarah atau Kembali Kepada Islam?

December 2nd, 2006 by dakwahislam

Pada persidangan Agung UMNO ke-57 baru-baru ini, Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, yang juga merupakan Presiden UMNO menegaskan dalam ucapannya, bahawa kerajaan akan menguatkuasakan undang-undang ke atas pihak yang terus mempertikaikan kontrak sosial yang telah termaktub di dalam Perlembagaan Persekutuan. Kenyataan ini kemudiannya disambut secara positif oleh Ketua Pengarah Jabatan Kehakiman Syariah Malaysia (JKSM) yang juga Ketua Hakim Syarie, Datuk Sheikh Ghazali Abdul Rahman yang menyatakan, kontrak sosial itu telah diterima sekian lama oleh rakyat Malaysia dan tidak wajar ia diperbahaskan. ‘‘Kontrak sosial tersebut memberi ketenteraman sekian lama hingga

Malaysia

menjadi contoh bagi sesetengah negara lain…..Ia tidak patut dipertikai oleh mana-mana pihak’’ katanya ketika ditemui Utusan

Malaysia

selepas perasmian Sekretariat Persatuan Peguam Syarie Malaysia (PGSM). Tambahnya, seandainya pertikaian berterusan, ia akan menggugat perkembangan dan kemajuan

Malaysia

. [UM 18/11/06].

Isu Kontrak Sosial ini sebenarnya telah pun hangat pada tahun lepas, tatkala Mingguan Malaysia pada 14/08/05 menyiarkan laporan yang memetik ucapan Presiden Parti Gerakan, Datuk Seri Lim Keng Yaik yang menggesa parti-parti politik di negara ini melupakan formula kontrak sosial antara kaum kerana ia didakwa membuatkan masyarakat Cina dan India merasa ‘kecil hati’. Berikutan itu, Naib Ketua Pergerakan Pemuda UMNO, Khairy Jamaluddin membidas kenyataan tersebut dengan mendakwa ia bercanggah dengan Perlembagaan Persekutuan. Reaksi serupa dari beberapa pemimpin UMNO turut disiarkan di media. Selepas beberapa orang pemimpin campur tangan, maka seperti biasa, semua pihak yang berani bersuara terus menutup mulut dan memendam segala rasa tidak puas hati.

Meskipun istilah ‘Kontrak Sosial’ bukan merupakan sesuatu yang asing bagi rakyat

Malaysia

dan telah menjadi bualan dan perbincangan pada mesyuarat agung UMNO yang lepas, tidak dapat dinafikan bahawa masih ramai di kalangan rakyat yang kurang faham ataupun langsung tidak memahami maksudnya. Sautun Nahdhah kali ini akan menyongsong sejarah tentang kedudukan Kontrak Sosial (The Social Contract) ini, seterusnya memaparkan perbincangan tentang Piagam Umat (Mitsaq al-Ummah) menurut perspektif Islam.

‘Du Contract Sosial’

Ketika Eropah masih di zaman kegelapan (dark ages), gereja bersikap keras terhadap sains dan akan menghalang apa sahaja teori yang bercanggah dengan dogmanya. Ini menyebabkan wujudnya ahli fikir dan ahli falsafah (golongan intelektual) yang amat tidak berpuas hati dan mengambil keputusan untuk menggulingkan kuasa gereja/ agama. Setelah itu, terjadi pertembungan yang begitu hebat di antara gereja dan kelompok intelektual ini. Krisis berdarah ini berakhir dengan kedua-dua pihak bersetuju untuk mengambil jalan tengah (kompromi) di mana kuasa pemerintahan yang ada pada gereja dihapuskan dan diserahkan kepada golongan intelektual. Gereja hanya dibenar menguruskan hal-hal agama sahaja. Agama tidak dinafikan tetapi mesti dipisahkan dari kehidupan atau pemerintahan. Setiap orang adalah bebas untuk percaya kepada agama atau tidak (kebebasan beraqidah). Yang penting, agama mesti dipisahkan dari urusan kehidupan. Inilah peristiwa yang membidani lahirnya ‘Sekularisme’.

Golongan Intelektual ini kemudian berfikir keras tentang cara untuk mewujudkan sebuah negara yang ideal (sempurna). Mereka sebenarnya tidak mempunyai idea untuk membina sebuah Negara pun, apatah lagi yang ideal. Dari sini, lahirlah para pemikir atau cendekiawan Barat yang

cuba

membina suatu persepsi baru untuk memulakan sebuah Negara. Selama ini mereka jauh ketinggalan dari segala aspek tentang kenegaraan berbanding umat Islam, yang diterajui oleh Khilafah Uthmaniah yang mendominasi politik dunia pada ketika itu. Beberapa perkara tentang Negara mula difikirkan oleh pemikir-pemikir Eropah yang akhirnya meletuskan Revolusi Perancis sebagai manifestasi dari proses Renaissance (pencerahan dari aspek pemikiran).

Para

pemikir ini kemudian melahirkan pelbagai teori bagaimana untuk mengatur urusan sebuah negara. Oleh kerana tiada apa-apa yang boleh menjadi pegangan mereka, tiada kitab sebagai rujukan, tiada hukum-hakam yang menjadi pegangan, tiada ajaran agama yang boleh memandu mereka, maka mereka hanyalah menggunakan kecerdasan akal semata-mata di dalam mencipta setiap teori. Pada peringkat ini, apa yang mereka boleh kemukakan hanyalah teori semata-mata, dengan beberapa istilah yang digunakan untuk menjelaskan teori tersebut.

Istilah asal Kontrak Sosial (the social contract) telah dikemukakan oleh Plato, seorang ahli falsafah Yunani, lebih 2,500 tahun yang lalu dalam tulisannya ‘The Republic’. Namun begitu beliau tidak memberikan penjelasan secara terperinci mengenainya. Setelah itu datang ahli falsafah yang menerangkan konsep Kontrak Sosial ini; antaranya adalah Hugo Grotius, Kant, Rousseau dan Hobbes. Ahli-ahli falsafah ini bersetuju tentang wujudnya Kontrak Sosial antara pemerintah dengan rakyat. Idea Kontrak Sosial ini diasaskan atas premis bahawa kuasa terletak pada rakyat. Tiga orang ahli falsafah yang banyak menghidupkan dan mewarnai teori Kontrak Sosial dalam sains politik moden Barat, ketika zaman pencerahan dan Revolusi Industri adalah Thomas Hobbes [Leviathan, 1651M], dikuti oleh John Locke [Two Treaties of Goverment, 1690M] dan Jean Jacques Rousseau [Du Contrat Social 1762M]. Karya Rousseau, Du Contrat Social, dikatakan amat berpengaruh dalam mencetuskan Revolusi Perancis 1789.

Dua isu penting yang dibincangkan di dalam teori Kontrak Sosial ini ialah:-

•Institusi yang baik dan berkesan untuk menjaga kepentingan rakyat ialah ‘Negara’ di mana setiap individu melepaskan dirinya dan kuasanya kepada ’kehendak umum’.

•Negara diwujudkan ekoran dari sebuah ‘perjanjian’.

Namun ada beberapa persoalan yang sering menjadi perselisihan di kalangan mereka - mengapakah manusia mewujudkan negara? Siapakah yang akan menganggotai pakatan yang kemudiannya mewujudkan negara? Apakah syarat-syarat perjanjian tersebut? Persoalan-persoalan sebegini telah menjadi perdebatan oleh mereka di dalam perjalanan mewujudkan ‘negara idaman’ mereka. Sebenarnya semua persoalan ini muncul hasil dari ketidakjelasan dan kecelaruan mereka di dalam berfikir yang tidak dipandu oleh suatu aqidah yang benar, yang gagal menjawab dan memuaskan akal si pemikir dan manusia secara umumnya. Inilah manifestasi dari kegagalan aqidah Sekularisme yang memberikan penyelesaian berdasarkan akal manusia, bukannya wahyu. Di dalam Islam, persoalan-persoalan sebegini telah lama dijawab oleh Rasulullah di dalam perjalanan dakwah baginda mewujudkan Negara Islam di Madinah.

Piagam Umat

Sebelum kedatangan Islam lagi telah ada satu kesepakatan seakan-akan ‘Kontrak Sosial’ antara dua kaum Aus dan Khazraj dalam hal kepimpinan dan kenegaraan, namun ianya berlegar atas dasar perkauman. Telah wujud satu kesepakatan di antara mereka bahawa kepimpinan Yathrib (Madinah) mestilah terdiri dari kalangan dua kaum itu sahaja. Namun kesepakatan ini telah terungkai setelah mereka memeluk Islam dan disusuli dengan peristiwa Bai’ah Al-Aqabah II. ‘Kontrak Sosial’ yang wujud sejak sekian lama di negara mereka (Madinah) telah diubah oleh mereka sendiri apabila mereka memeluk Islam dan berbai’ah kepada Rasulullah. Hal ini jelas terlihat dari ucapan mereka kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala proses bai’ah berlangsung. Asy-Sya’bi meriwayatkan bahawa As’ad bin Zararah (pemimpin suku Khazraj) berkata kepada Rasulullah,

“…..engkau telah meminta kepada kami (untuk menyerahkan kekuasaan milik kami), walhal kami adalah satu kelompok masyarakat yang hidup di dalam negara dalam keadaan mulia dan kuat di mana di dalamnya tidak ada seorang pun yang rela dipimpin oleh orang dari luar suku kami………permintaan tersebut adalah suatu hal yang sukar sekali, tetapi kami ini (telah sepakat) memenuhi permintaan engkau.” Begitulah para sahabat yang mulia telah melepaskan segala ikatan yang ada pada mereka hanya semata-mata untuk mengikat diri mereka dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka meninggalkan ikatan sejarah mereka dan mengikat diri dengan ikatan Islam. Setelah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah, maka baginda terus menggubal piagam yang dinamakan Sahifah Al-Madinah (Piagam Madinah) sebagai asas kepada pembentukan sebuah negara baru, yakni Daulah Islamiyyah. Sahifah yang menjadi dokumen asas negara ini digubal berdasarkan wahyu semata-mata. Antara kandungan yang jelas adalah unsur pembentukan Negara, hubungan antara orang Islam dan kafir serta hubungan luar negara. Yang paling penting sekali adalah jika wujud sebarang persengketaan, hendaklah ia dirujuk kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sekiranya kita mengkaji khazanah Islam tentang sains politik, maka kita akan menjumpai jawapan yang jelas tentang ilmu politik Islam. Kita pasti akan menemui dengan mudah apa yang dinamakan oleh Barat, Kontrak Sosial ini, bahkan penjelasannya adalah jauh lebih terperinci. Di dalam keadaan Barat terkial-kial mencari jawapan yang benar, di dalam keadaan mereka meraba-raba untuk keluar dari kegelapan, Islam telah lama memberi cahaya petunjuk kepada kita semua. Sebagai contoh, persoalan ahli falsafah Barat berkenaan apakah ‘kontrak’ yang perlu wujud antara pemimpin dan yang dipimpin? Islam telah lama menjelaskan bahawa “Imam (Khalifah) itu adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab di atas apa yang dipeliharanya (rakyatnya)…..” [HR Bukhari dan Muslim]. Islam juga menjelaskan bahawa “Imam itu adalah perisai, yang mana dibelakangnya umat berperang.” [HR Muslim]. Hadis-hadis ini dan yang senada dengannya menjelaskan tentang tanggungjawab pemimpin terhadap rakyatnya.

Syeikh Abu Ubaid Al-Qasim, salah seorang ulama Islam yang meninggal tahun 224H (884M), hampir seribu tahun mendahului Rousseau, telah meletakkan bab Haqqul Imam ’ala Ra’iyyat, Wa Haqqul Ra’iyyat ’ala Imam (tanggungjawab rakyat terhadap pemimpin dan tanggungjawab pemimpin terhadap rakyat) sebagai bab pertama di dalam kitab tulisannya berkenaan harta, Al- Amwal. Beliau memuatkan hadis-hadis dan atsar berkenaan dengan dua identiti penting dalam negara iaitu rakyat dan pemerintah. [Kitab Al-Amwal, Abu Ubaid Al- Qasim Bin Salam, ms 10].

Imam Marwardi (meninggal 450H/1058M) dan Imam Abu Ya’la (meninggal 458 H/1065M) telah menulis kitab kenegaraan yang sama judulnya, iaitu Al-Ahkam Al- Sulthaniyyah mengikut pandangan Mazhab Syafie dan Hambali. Kalau kita mengkaji kitab-kitab ini nescaya kita akan dapat menjawab semua permasalahan asas yang dilontarkan oleh pelopor teori Kontrak Sosial Barat. Hukum-hakam bernegara di dalam Islam telah selesai lebih dari 1400 tahun yang lepas. Barat yang telah lama hidup di dalam kegelapan dan jahil tentang ilmu pemerintahan berusaha merangkak keluar darinya dengan mencari-cari alasan yang rasional dan logik terhadap keperluan penubuhan sebuah negara, Hasilnya, mereka menemukan teori Kontrak Sosial yang dilihat sebagai jalan keluar, hal yang telah lama diselesaikan oleh Islam dengan jalan wahyu. Malangnya, pemimpin umat Islam sekarang telah kembali semula ke zaman kegelapan dengan menelusuri sejarah kelam Eropah untuk membentuk sebuah negara berdasarkan kontrak sosial ala Barat. Walhal yang sepatutnya dilakukan oleh para pemimpin ialah mengikuti sejarah pembentukan Negara Islam Madinah yang dirintis oleh Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Inilah KEWAJIBAN yang sebenar-benarnya.

Di sini kami ingin utarakan dua isu sebagai kajian perbandingan, kerana ruangan ini semestinya terlalu sempit untuk membicarakan satu kritikan yang komprehensif. Persoalan Pertama, mengapakah manusia mewujudkan negara? Persoalan ini sebenarnya telah dijawab oleh kedua-dua Imam tentang peri pentingnya Imam (Ketua Negara) dalam Islam. Al-Mawardi dan Abu Ya’la mengatakan bahawa WAJIB secara Ijma’ untuk melantik Imam (Khalifah), di mana mereka beristidlal dengan surah Al-Nisa ayat 49 [Al-Ahkam Al-Sultaniyyah, Mawardi, ms 5, Abu Ya’la ms 19]. Ulama kontemporeri, Syeikh Taqiuddin Al-Nabhani menerangkan dengan jelas tentang kewajiban menubuhkan sebuah Negara Islam (Negara Khilafah) sebagai pimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia yang akan menerapkan hukumhakam syara’ dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Beliau telah mengambil dalil dari Al-Quran, Al-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan kaedah usul untuk menerangkan secara syar’i, mengapa umat Islam wajib mendirikan sebuah Daulah Islam. [Al-Khilafah, Taqiuddin Al-Nabhani, ms 1-14]. Justeru, jawapan ringkas kepada persoalan kenapa kita perlu kepada negara adalah ia merupakan suatu KEWAJIBAN yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke atas kita.

Persoalan Kedua ialah, apakah boleh berlaku pembaharuan Kontrak Sosial jika rakyat menginginkannya? Persoalan ini dijawab oleh Rousseau dalam bab ‘Bagaimana Menyekat Rampasan Kuasa Kerajaan’; beliau menyatakan “…bahawa dalam negara, tidak ada undang-undang asas apapun yang boleh ditarik balik, termasuk perjanjian sosial itu sendiri..”. Persoalan ini juga telah lama terjawab di dalam khazanah politik Islam dengan jawapan yang benar-benar memuaskan akal, di mana ‘Piagam Umat’ yang wujud adalah merupakan suatu perkara yang

baku

, yang tidak dapat diubah kerana ianya bersumber dari wahyu. Perubahan hanya boleh berlaku jika ada nas yang menjelaskan kebolehannya. Rampasan kuasa haram dilakukan sama sekali, selama mana pemerintah memerintah dengan kitabullah dan sunnah RasulNya.

Para

sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang seorang pemimpin yang berbuat zalim, “Apakah kami diperbolehkan untuk memerangi mereka, ya Rasulullah?”, jawab Nabi, “Jangan, biarkan mereka selama mereka masih mendirikan puasa dan solat.” [HR At-Thabrani dalam Al-Kabir juga Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Majma Al-Zawaid, V/224]. Puasa dan solat di dalam hadis tersebut merupakan kinayah (kiasan) kepada ‘penerapan syariat Islam’ oleh Ketua Negara.

Dalam riwayat lain: “Dan agar kami tidak merampas urusan (pemerintahan) itu dari pemegangnya, kecuali (kata Nabi): “Jika kalian melihat kekufuran yang nyata, dimana kalian mempunyai bukti yang jelas di sisi Allah.” [HR Bukhari dan Muslim]. Semuanya ini menjelaskan larangan yang nyata untuk merampas atau mengguling pemerintahan selama mana pemerintah masih menerapkan hukum-hukum Islam [Muqadimah Al-Dustur, Taqiuddin Al-Nabhani, ms 8]. Manakala jika ada pihak pemberontak (bughat)

cuba

untuk merampas kuasa, Islam telah memerintahkan pihak yang memegang tampuk pemerintahan untuk memerangi mereka sehingga mereka tunduk. Peperangan ini adalah peperangan berbentuk ta’dib (pengajaran) bukannya sebuah perang untuk membunuh musuh [Nizhamul Uqubat, Abdurahman Al- Maliki]. Jika kita kaji dengan teliti, nescaya kita akan dapati bahawa hukum-hakam Islam telah pun menjawab seawal satu abad (1,000 tahun) persoalan-persoalan yang baru muncul di Barat tentang kenegaraan, dengan jawapan yang jauh lebih jitu, terperinci dan sempurna.

Kontrak Sosial Di dalam Penubuhan

Malaysia

Apabila negara-negara Komunis menyerang Ideologi Kapitalis dengan mengatakan bahawa kemuncak kepada Kapitalisme adalah penjajahan, ini menyebabkan berlaku beberapa perubahan yang mendasar dalam polisi luar British di tanah jajahan mereka. Mereka mula berfikir untuk memerdekakan negara-negara jajahan mereka. Oleh itu, mereka mula menanamkan asas-asas pemikiran Negara Ideal yang menjadi imaginasi tokoh-tokoh Renaissance mereka. Mereka telah meletakkan bahawa untuk mencapai apa yang mereka sebut sebagai sebuah ‘kemerdekaan’, penduduk negara tersebut mestilah mengadakan apa yang mereka namakan sebagai Kontrak Sosial, sebagai prasyarat untuk kemerdekaan. Dr Chandra Muzaffar mengulas dalam temubual bertajuk ‘Kembali Kepada Sejarah’ “Tanpa kontrak sosial tidak ada Perlembagaan. Tanpa kontrak sosial mungkin kita tidak dapat mencapai kemerdekaan kerana British menjadikan permuafakatan itu sebagai prasyarat. Kontrak Sosial adalah anak kunci kepada hubungan kaum sebagaimana yang termaktub dalam Perlembagaan. Kontrak Sosial juga asas kepada sistem pemerintahan yang menjadikan kita negara Demokrasi Berparlimen, Raja Berperlembagaan dengan konsep negeri dan persekutuan. Atas sekurang-kurangnya empat perkara ini - perlembagaan, kemerdekaan, hubungan kaum dan sistem pemerintahan - Kontrak Sosial telah memainkan peranan yang penting.” [UM 28/08/05].

Kontrak sosial di Malaysia merujuk kepada perjanjian oleh bapa-bapa kemerdekaan negara dalam Perlembagaan, dan merupakan penggantian beri-memberi atau quid pro quo melalui Perkara 14–18 yang berkaitan dengan pemberian kewarganegaraan Malaysia kepada orangorang bukan Melayu, dan Perkara 153 yang memberikan hak istimewa rakyat kepada mereka daripada kaum bumiputera. Istilah ini juga kadang-kala digunakan untuk merujuk kepada bahagian-bahagian yang lain dalam Perlembagaan, seperti Perkara yang mengatakan bahawa

Malaysia

adalah sebuah negara sekular. [http:// ms.wikipedia.org/wiki/Kontrak_Sosial_di_Malaysia]

Begitulah liciknya British, semasa mereka memerintah (sebenarnya menjajah) negara umat Islam (termasuk Tanah Melayu). Mereka tidak pernah memperkenal atau mengamalkan konsep Kontrak Sosial ini di dalam pemerintahan mereka malah hanya menerapkan sistem kufur mereka ke atas kita secara paksa. Namun, bila mereka ingin meninggalkan negara dengan ‘memberi’ sebuah ‘kemerdekaan’, mereka mencari jalan supaya ‘legacy’ (warisan) mereka terus tertanam dalam negara umat Islam. Maka, mereka ‘mencipta’ satu konsep yang menurut mereka kononnya ‘baik’ untuk kita, lalu mereka meletakkan Kontrak Sosial sebagai pra-syarat kemerdekaan. Seterusnya, untuk mengukuhkan lagi cengkaman mereka ke atas kita, dimasukkan pula konsep ini ke dalam Perlembagaan, dan mereka menetapkan bahawa Perlembagaan adalah undang-undang tertinggi negara yang mesti ‘dijunjung’. Inilah di antara kejayaan kafir British, dengan kerjasama, secara sedar atau tidak, bonekaboneka mereka – kaum Muslimin telah benar-benar berjaya dikongkong oleh mereka, sehingga umat Islam menganggap seolah-olah apa yang ditinggalkan oleh sang kafir ini sebagai suatu yang ‘suci’ dan tidak boleh dipermainkan. Hukum Allah boleh ditukar ganti tetapi hukum British tidak boleh! Inilah hakikat Kontrak Sosial yang telah ditetapkan oleh British di negeri-negeri kaum Muslimin, termasuk

Malaysia

.

Khatimah

Wahai kaum Muslimin! Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Agama Allah ini telah sempurna diturunkan untuk mengatur segala hubungan di antara manusia sesama manusia. Apa yang wajib kita lakukan hanyalah kembali kepada Islam di dalam menyelesaikan segala masalah yang muncul. Rasulullah telah mengatur urusan dunia dengan Islam. Baginda telah merubah sistem masyarakat dengan sistem Islam. Oleh yang demikian adalah suatu yang tabi’i dan patut disedari oleh umat Islam bahawa untuk mengatur hubungan masyarakat di dalam negara secara benar, kita perlu kembali kepada Islam, bukan kepada sejarah, apatah lagi sejarah penjajahan Barat. Umat Islam wajib beriman dengan Kitab dan Sunnah dan wajib menjadikan keduanya sebagai Piagam Umat, sebagai sumber rujukan tertinggi untuk Perlembagaan dan Undang-Undang.

Di dalam melaksanakan aktiviti ini, umat Islam memerlukan ‘Kerangka Kerja’ yang jelas bagaimana untuk mengaplikasikan Al-Quran dan Sunnah sebagai Piagam Umat, seterusnya memastikan kelicinan perjalanannya. Penjelasan tentang cara untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah serta bagaimana keduanya ini menjadi sumber Perlembagaan dan Undang-Undang, pencerahan tentang konsep negara dan asas-asasnya, juga dari aspek

Kera Dihutan Disusui Anak Sendiri Diracuni

November 24th, 2006 by dakwahislam

Kes ‘tangkap khalwat’ di mana-mana negeri di Malaysia adalah merupakan fenomena biasa. Tidak ada yang ’istimewa’nya dengan kes-kes sebegini kecuali beberapa kes sensasi yang melibatkan artis-artis atau orang-orang kenamaan. Walaubagaimanapun, kes penangkapan khalwat pasangan pelancong di Kuah, Langkawi oleh Jabatan Hal-Ehwal Agama Kedah bulan lepas telah menjadi satu isu dan mendapat liputan meluas media. Ini adalah kerana pasangan yang ditangkap itu merupakan pelancong asing dan bukan beragama Islam (Kristian). Tambahan pula mereka adalah sepasang suami-isteri. Peristiwa ini berlaku pada 12 Oktober lepas di mana seorang pesara polis Amerika Syarikat, Randal Barnhart, 62 bersama isterinya Carol, 61 telah diserbu di kondominium sewa mereka oleh pegawai penguatkuasa agama pada jam 2.00 pagi. Pegawai tersebut menuduh mereka melakukan khalwat serta meminta mereka menunjukkan sijil perkahwinan.

Sehubungan ini, Kementerian Pelancongan telah mengarahkan pegawainya di Kedah untuk menyiasat. Timbalan Menteri Pelancongan Datuk Donald Lim menyatakan bahawa Kementerian memandang serius perkara ini dan akan menghantar laporan kepada Menteri. Katanya, “Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor akan menyerahkan laporan berkenaan kepada Kabinet”. Orang ramai dan pihak pembangkang telah melahirkan keprihatinan mereka dan ingin mendapat jawapan dari pihak berkuasa, tambah beliau [The Star Online 03/11/06].

Peristiwa ini turut mendapat tindakbalas, komentar serta cadangan penyelesaian dari pelbagai pihak. Antaranya adalah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). JAKIM dilapor akan menjalankan mesyuarat khas menerangkan garis panduan operasi kepada semua Jabatan Agama Negeri pada 23-25 November. Mereka perlu mematuhi Piawaian Prosedur Operasi (SOP) ini. Mengikut SOP yang baru digubal, operasi hanya boleh dilakukan oleh pegawai yang mempunyai surat kuasa daripada Jabatan Agama Islam Negeri atau pemerintah negeri terbabit sahaja [NST, BH 16/11/06]. Persoalannya, apakah isu ini begitu hangat diperbincangkan kerana ia berlaku ke atas pelancong warga Amerika?  Bagaimana pula jika ia berlaku ke atas pasangan suami isteri beragama Islam warga Malaysia? Adakah ia akan menjadi isu yang hangat? Sautun Nahdhah akan membicarakan perkara ini serta peranan yang sepatutnya dimainkan oleh kaum Muslimin di dalam menangani gejala maksiat yang terus  bermaharajalela pada hari ini.

Barat Ditatang Islam Ditentang

Wahai kaum Muslimin! Kafir Barat tidak pernah menghormati Islam, malah mereka cukup benci kepada Islam dan berusaha menghapuskannya. Mereka tidak akan senang kepada kita sehinggalah kita mengikuti millah mereka. Walaupun mereka gagal menarik umat Islam agar memeluk agama mereka, tetapi mereka berjaya menarik sebahagian besar dari umat Islam agar mengikuti cara hidup mereka. Mereka memisahkan agama dari kehidupan (sekular), lalu umat Islam mengikutinya; mereka mengamalkan kebebasan, lalu umat Islam mengikutinya; mereka kasihkan dunia dan takutkan mati, lalu umat Islam juga mengikutinya. Yang lebih buruk, mereka bencikan umat Islam dan sistem Islam, lalu umat Islam juga mengikutinya. Oleh itu, kita menyaksikan sudah tiada lagi kehidupan Islam di sekililing kita, kita menyaksikan para pemimpin kaum Muslimin tidak lagi menerapkan Islam, sebaliknya mempertahankan sistem sekular yang mereka warisi dari Barat ini.

Kejayaan kafir Barat di dalam mengubah pemikiran umat Islam agar memisahkan diri dari Islam tidak berhenti di sini; mereka malah berjaya mengubah pemikiran umat Islam agar menyayangi mereka, menghormati mereka dan tunduk kepada mereka. Justeru, kita melihat umat Islam menyanjung tinggi sistem mereka yang kufur, menganggap hebat tamadun liar mereka dan memuliakan kehadiran mereka. Atas kejahilan ini, pelancong asing terutama dari Barat akan diberi layanan ’first class’ oleh kita. Mereka seperti insan yang mulia, berbanding rakyat sendiri. Kita sanggup berbuat apa sahaja asalkan dapat ’menambat hati’ dan memuliakan ’tetamu kehormat’ ini. Sehingga, jika ada undang-undang di dalam negeri yang menyusahkan mereka, maka undang-undang ini perlu dipinda agar ’tetamu’ ini dapat menikmati hidup dengan selesa di sini. Umat Islam seolah-olah sudah ’hilang punca’ bahawa kita adalah umat yang terbaik dan sistem kita adalah sistem terbaik yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak lama dahulu ada cadangan supaya dilanjutkan tempoh operasi pusat hiburan, pusat beli-belah dan restoran sehingga jam 5.00 pagi. Kementerian Pelancongan pernah mencadangkan kawasan hiburan khas diwujudkan sebagai jalan penyelesaian terbaik untuk mengimbangi keselesaan pelancong selepas keputusan dibuat untuk tidak melanjutkan tempoh operasi pusat hiburan di beberapa tempat tertentu di negara ini. Para pemimpin kita berusaha untuk memberi keselesaan kepada pelancong asing ini tanpa memikirkan bahawa usaha ini hanya akan menyuburkan lagi aktiviti maksiat di dalam negara. Mereka memandang penting akan keselesaan dan apa-apa aduan dari pelancong asing. Jika ada sedikit sahaja aduan, maka ia akan terus dilayan dengan sungguh-sungguh. Namun jika aduan tersebut datang dari rakyat sendiri, maka ia seolah-olah tak perlu disegerakan. Jika kita tersilap tangkap pasangan Barat sedang berkhalwat, maka undang-undang perlu dipinda agar perkara ini tidak berulang. Tetapi jika yang tersilap tangkap itu adalah pasangan tempatan, maka ini soal kecil sahaja, tak perlu dibincangkan! Pendek kata apa-apa sahaja yang boleh menyebabkan ’ketidakselesaan’ atau ’kemarahan’ orang-orang Barat, maka ini adalah isu penting dan perlu ditangani segera, apatah lagi jika isu-isu tersebut membabitkan soal keselamatan.

Lihat sahaja kedatangan Presiden rejim ganas AS, George Bush ke Indonesia baru-baru ini yang disambut baik oleh sang pemimpin, seolah-olah si laknatullah ini seorang hero penyelamat umat. Ribuan polis dikerah berjaga-jaga, bukan semasa kedatangan, malah sebulan sebelum kedatangannya!! Begitu juga kita melihat kedatangan Condoleeza Rice ke Malaysia tidak lama dulu yang disambut dengan ‘permaidani merah’, walaupun pada hakikatnya tangan rejim ganas AS ketika itu masih berlumuran darah dengan pembunuhan yang mereka lakukan ke atas saudara-saudara kita. Sama juga halnya dengan delegasi-delegasi atau pelancong-pelancong dari Barat di mana layanan yang diberikan kepada mereka sangat luarbiasa. Para pemimpin kaum Muslimin sudah tidak lagi membezakan kawan atau lawan, musuh atau sahabat, golongan yang mulia atau yang hina, musuh Allah ataupun tidak.

Wahai kaum Muslimin!  Janganlah sekali-kali kalian lupa akan kebiadaban Barat ke atas kalian dan ke atas agama Allah. Barat sentiasa memandang serong ke atas semua orang yang pada namanya ada ’bin’ atau ’binti’. Di lapangan terbang, nama-nama sebegini akan diperiksa habis-habisan dan akan diberi ’perhatian istimewa’. Bukan diperhati untuk dijaga keselamatannya, tetapi untuk ditembak seperti anjing jika perlu. Dari mula menjejakkan kaki di lapangan terbang, umat Islam terus menjadi ’pesalah’ sehinggalah kita menaiki kapal terbang semula untuk pulang. Bahkan, umat Islam yang telah lama berada di negara mereka atau yang telah menjadi warganegara mereka sekalipun, turut dilayan dengan ’kurang ajar’ oleh mereka. Mereka tidak membenarkan kita mengamalkan cara hidup kita, walhal mereka mendakwa mereka adalah negara yang mengamalkan kebebasan. Mereka mahu kita berfikir sebagaimana mereka dan tunduk kepada mereka.

Jika Bush menyatakan (tuduhan liar) bahawa Arab Saudi, Syria, Indonesia atau Malaysia adalah sarang pengganas, maka kita akan melihat betapa para pemimpin kaum Muslimin akan kelam kabut berusaha untuk membuktikan bahawa negara mereka bukan sarang pengganas. Kita melihat seolah-olah kenyataan Bush itu adalah hasil dari analisis yang mendalam dan disertai bukti-bukti yang tidak dapat disangkal. Pokoknya, hanya dengan satu tuduhan, kita terus menjadi bersalah sehinggalah kita membuktikan sebaliknya. Yang menuduh (Bush) seolah-olah tidak bersalah dan tidak perlu membuktikan apa-apa; sebaliknya, yang dituduh mesti mendatangkan bukti. Demi untuk membuktikan bahawa tuduhan Bush itu tidak berasas, maka rakyat sendiri menjadi mangsa. Maka lahirlah pemimpin-pemimpin yang membenci dan memusuhi rakyatnya, terutama gerakan Islam yang ikhlas berjuang menegakkan hukum Allah, meskipun mereka (gerakan-gerakan ini) tidak menggunakan kekerasan dalam dakwah. Golongan ini akan dicop sebagai ekstrem, radikal, pengganas dan sebagainya. Pemuja Barat disanjung, pejuang Islam dibendung. Musuh Allah dianggap dan dilayan sebagai sahabat, golongan yang menolong agama Allah dianggap dan dilayan seperti musuh. Ibarat kata, kera di hutan disusui, anak sendiri diracuni.

Wahai kaum Muslimin! Wahai para pemimpin kaum Muslimin! Lupakah kalian akan segala kejahatan yang telah dilakukan Barat ke atas kalian dan saudara-saudara kalian? Saudara kalian diseksa, disembelih dan dibunuh dengan kejam oleh mereka. Anak-anak perempuan dan wanita-wanita dirogol dan ditembak sesuka hati. Di dalam pemikiran Barat, umat Islam adalah umat yang hina, umat Islam adalah musuh, jahat, terroris dan sebagainya. Mereka betul-betul menganggap kita sebagai penjenayah yang perlu dihapuskan, kecuali golongan yang tunduk kepada Barat dan mengamalkan nilai-nilai mereka. Atas dasar ini, mereka memerangi kita habis-habisan.

Tidak lama dahulu di Perancis, pelajar perempuan Islam dilarang memakai tudung ke sekolah. Baru-baru ini, isu tudung sekali lagi dibangkitkan oleh Menteri Luar Britain, Jack Straw. Britain yang kononnya sebuah negara yang memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan, tidak membenarkan umat Islam mengamalkan cara hidup Islam. Kita tidak boleh mengamalkan cara hidup kita di tempat mereka, tetapi mereka bebas mengamalkan cara hidup mereka di tempat kita. Mereka bebas memakai bikini di negara mereka dan melakukan perkara yang sama di negara-negara kita. Mereka berjemur di pantai tanpa seurat benang pun di negara mereka dan mereka dibiarkan melakukan hal yang sama di negara kita. Apabila kita ingin menyekat perkara ini, maka kita akan dikatakan menolak idea kebebasan. Inilah sikap hipokrit Barat yang memperjuangkan kebebasan. Takut dicop oleh Barat sebagai golongan yang menolak kebebasan, maka para pemimpin dan ulama kita hanya membiarkan sahaja mereka bertelanjang di negara kita. Undang-undang kita digubal dan dijaga agar tidak menyekat konsep kebebasan seperti ini.

Wahai kaum Muslimin! Sedarkah kalian bahawa golongan kuffar tidak pernah mengambil kira sensitiviti umat Islam di dalam apa-apa hal sekalipun. Sebaliknya, para pemimpin dan ulama’ kalian terlalu menjaga dan mengambil kira sensitiviti Barat di dalam segenap hal. Penjagaan rapi terhadap sensitiviti kaum kuffar ini menyebabkan mereka meletakkan Islam di belakang. Hukum syara’ diketepikan hanya semata-mata kerana takut mengguris atau melukakan hati penganut agama lain, seolah-olah Islamlah yang bersalah. Mereka yang bersuara menegakkan hukum syara’ terus dicop sebagai ekstremis dan radikal. Islam seolah-olah sudah menjadi musuh di dalam selimut!!

Amar Makruf Nahi Mungkar – Tugas Siapa?

Banyak pihak hanya meletakkan urusan amar makruf nahi mungkar di tangan orang-orang atau agensi-agensi tertentu sahaja. Atas dasar ini, jika aktiviti amar makruf nahi mungkar ini gagal, maka jari boleh dituding kepada pihak-pihak yang telah dipertanggungjawabkan. Akibatnya, pihak-pihak lain, termasuk para pemimpin dan kerajaan adalah tidak bersalah. Justeru, JAKIM, sebagai pihak yang diberi tanggungjawab selalu dipersalahkan apabila banyak kegiatan negatif gagal dibendung. Semua pihak terus-terusan menyerang JAKIM di atas kegagalan ini, sekaligus berjaya menutup kelemahan-kelemahan ’pihak lain’ dan ’sistem’ yang ada. JAKIM dikritik hebat dalam Perhimpunan Agong UMNO baru-baru ini. JAKIM juga sebenarnya telah dikritik dalam perhimpunan-perhimpunan yang lepas. Mungkin ramai yang berpendapat JAKIM wajar membela diri di atas setiap pertuduhan meskipun ia turut mengakui kelemahan yang ada dan berusaha untuk memperbaikinya. Persoalannya, adakah JAKIM benar-benar bersalah dan jika ya, adakah langkah-langkah yang diambil untuk memperbaikinya sesuai dengan Islam?

Tugas kami di sini bukanlah untuk menghukum siapakah yang bersalah tetapi kami bertanggungjawab untuk merungkai segala kebatilan dan menjelaskan segala kebenaran, agar cahaya kebenaran akan melenyapkan segala kebatilan. Ketahuilah wahai kaum Muslimin bahawa kegiatan amar makruf nahi mungkar diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada setiap individu, masyarakat dan juga gerakan-gerakan Islam. Ia bukan hanya tugas orang atau pihak tertentu sahaja. Oleh itu, kita tidak boleh menghadkan aktiviti amar makruf nahi mungkar bagi pihak-pihak tertentu sahaja.

Untuk setiap individu Muslim, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu (dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman.” [HR Muslim]. Menurut Qadi Iyadh, hadis ini berkaitan dengan sifat-sifat seseorang ketika mengubah kemungkaran. Orang yang hendak mengubah kemungkaran boleh dengan berbagai cara, samada melalui perkataan mahupun tangan (perbuatan). Jika dia menduga bahawa sekiranya kemungkaran tersebut diubahnya dengan tangan akan muncul kemungkaran yang lebih besar lagi, seperti risiko akan dibunuh atau orang lain akan terbunuh kerana perbuatannya, cukuplah ia mengubahnya dengan lisan seperti nasihat dan peringatan. Jika ia bimbang ucapannya itu boleh mengakibatkan risiko yang sama, cukuplah diingkarinya dengan hati (tidak redha akan maksiat tersebut). Itulah maksud hadis tersebut [An-Nawawi, Syarh Sahîh Muslim, jilid II/25]. 

Berdasarkan hal ini, semua orang pada hakikatnya mampu dan berhak mengubah kemungkaran. Tidak kira siapakah dia, samada pegawai kerajaan atau orang awam. Ini jelas telah dilaksanakan oleh Daulah Islamiyyah sebagaimana yang digambarkan oleh Abu Ya’la Muhammad al-Farra’ di dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah ketika menceritakan peristiwa hisbah yang mana ianya melibatkan pegawai Negara dan sukarelawan yang terdiri daripada rakyat tempatan [Al-Farra, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, 1983]. 

Masyarakat secara keseluruhan juga diperintahkan oleh Rasulullah agar melakukan aktiviti amar makruf nahi mungkar ini. Perumpamaan yang tepat telah digambarkan oleh Rasullullah di dalam sebuah hadis yang lebih dikenali sebagai ‘hadis kapal’ di mana Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang mencegah maksiat dan melanggarnya adalah seperti kaum yang menaiki sebuah kapal. Sebahagian mereka berada di atas dan yang lain berada di bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah memerlukan air, mereka terpaksa melalui orang-orang yang di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Jika kami tebuk sahaja lubang pada bahagian kami ini, tentu kami tidak perlu menyusahkan orang-orang di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (walhal mereka tidak menghendakinya), maka binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah kesemuanya.” [HR Bukhari].

Begitulah perumpamaan jelas yang dibuat oleh Junjungan kita. Jika masyarakat membiarkan aktiviti maksiat berlaku di dalam lingkaran mereka, maka keseluruhan masyarakat itu disifatkan oleh Rasulullah akan binasa. Idea ’kebebasan’ yang dianut oleh masyarakat pada hari ini menyebabkan mereka tidak ambil peduli dengan apa yang berlaku di sekeliling mereka, yang penting mereka tidak diganggu. Oleh itu, kita menyaksikan segala kerosakan berlaku di dalam masyarakat kita sebagai natijah dari tidak wujudnya di kalangan kita yang menegur atau mengubah kemungkaran sebagaimana yang Rasulullah perintahkan. Justeru, masyarakat secara umumnya haruslah berusaha bersungguh-sungguh untuk mencegah dan menghalang segala aktiviti maksiat agar kita semua terselamat dari bencana.

Bagi gerakan-gerakan Islam pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan melalui FirmanNya, ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang menang.” [TMQ Ali Imran (3):104]. Ayat yang mulia ini merupakan perintah Allah yang sangat jelas kepada kelompok-kelompok Islam bahawa mereka wajib melakukan aktiviti amar makruf nahi mungkar dan ini adalah asas kepada kegiatan mereka.

Seperkara lagi yang perlu difahami dengan benar adalah maksud kemungkaran atau maksiat itu sendiri. Ramai di kalangan umat Islam yang menganggap perkara-perkara maksiat adalah zina, khalwat, berdua-duaan dan seumpamanya. Fahaman sebegini jelas keliru dan mengelirukan. Maksiat bermaksud melakukan apa-apa sahaja perkara yang haram atau meninggalkan yang wajib. Oleh itu mengambil riba adalah maksiat, begitu juga dengan makan rasuah, berjudi, tajassus (mengintip sesama umat Islam), tidak solat, tidak puasa dan seumpamanya. Adapun melakukan perkara yang mubah, tidak melakukan perkara yang sunat atau melakukan perkara yang makruh tidaklah dikategorikan sebagai maksiat. Oleh itu, tidak berpuasa hari Isnin dan Khamis, tidak bersedekah atau memakan bawang tidaklah dikategorikan sebagai maksiat. Oleh yang demikian, yang dimaksudkan dengan mencegah kemungkaran di sini adalah mencegah segala perkara yang haram (maksiat).

Sehubungan dengan ini, Negara adalah satu-satunya entiti pelaksana (kiyan tanfizi) dalam membendung aktiviti maksiat yang dilakukan oleh mana-mana individu atau kumpulan. Maksudnya, Negara wajib menghukum semua pelaku maksiat dengan hukum Allah. Oleh itu, para pelaku maksiat wajib dihukum samada dengan jinayat (qisas), hudud, ta’zir mahupun mukhalafat. Inilah sistem ’uqubat (hukuman) di dalam Islam ke atas mereka yang memaksiati Allah. Sehubungan dengan ini juga, kita harus sedar bahawa maksiat terbesar yang dilakukan oleh manusia terhadap Allah adalah tidak menerapkan hukum Allah itu sendiri. Menerapkan hukum selain hukum Allah adalah sebesar-besar kemungkaran yang dilakukan oleh manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu besar dosa mereka yang melakukan perkara ini di sisi Allah sehingga Allah mengkategorikan mereka ini sebagai kafir, zalim dan fasik. [lihat Al-Qur’anul Karim Surah Al-Maidah (5): 44, 45 dan 47]

Justeru, wajib ke atas setiap individu Muslim, gerakan-gerakan Islam dan mana-mana agensi Islam sekalipun mencegah segala maksiat yang berlaku di sekeliling mereka. Kewajiban ini tidak boleh diletakkan di bahu pihak tertentu sahaja dan tidak dibolehkan mana-mana pihak menyekat mana-mana individu atau kelompok Islam dari melakukan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban ini datangnya dari Allah dan Rasul, bukannya datang dari manusia. Sama sebagaimana kewajiban solat dan puasa, di mana kita melakukannya tanpa perlu izin dari mana-mana pihak, maka hal yang sama hukumnya wajib ke atas setiap kaum Muslimin untuk melakukan amar makruf nahi mungkar tanpa perlu terlebih dahulu meminta izin dari mana-mana pihak. Namun begitu, yang perlu dibezakan di sini ialah dari segi hukuman. Hanya Negara yang berhak menjatuhkan hukuman, itu pun wajib dijatuhkan hukum Allah, bukan hukum manusia. Sekiranya hukum manusia yang dijalankan, maka semua pihak (termasuk JAKIM) wajib pula mencegah kemaksiatan terbesar ini. Dengan kata lain, para pemimpin yang telah melakukan maksiat terbesar ini wajib dimuhasabah.

Wahai kaum Muslimin! Kami ingin mengakhiri risalah ini dengan satu kata-kata yang mulia, yang keluar dari mulut seorang yang mulia, dari peribadi seorang yang mulia, dari semulia-mulia makhluk, agar kalian benar-benar mengambil peringatan darinya dan takut akan azabNya ke atas kalian jika kalian tidak melakukan amar makruf nahi mungkar.

Demi jiwaku yang ada dalam genggamanNya, (hendaklah) kalian memerintahkah kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdoa kepadaNya, lalu doa kalian tidak akan dikabulkan.” [HR at-Tirmidzi].

Ya Allah! Saksikanlah bahawa kami telah menyampaikan…